Memahami Karakter Konsumsi Generasi Muda Agar Bisnis Bertahan

Memahami Karakter Konsumsi Generasi Muda Agar Bisnis Bertahan
Memahami Karakter Konsumsi Generasi Muda Agar Bisnis Bertahan

Akhir tahun sudah di depan mata, bagaimana hasil evaluasi bisnis yang kamu jalani selama 2017 ini? Sudahkah mencapai target? Pengamat Pemasaran Bisnis dan Pendiri Inveture Yuswohady menyebut, terjadi pergeseran pola konsumsi di kalangan generasi muda.

Pergeseran pola konsumsi ini akan membuat bisnis berbasis ekonomi digital dan leisure berkembang di tahun depan. Buktinya, e-dagang, transportasi daring, perusahaan teknologi berbasis keuangan (fintech) dan penggunaan uang elektrik semakin berkembang.

Oleh karena itu, kamu perlu mengambil langkah antisipasi dengan mengenali karakter pasar anak muda ini. Untuk itu, Yuswohady memberi kiatnya di Entrepreneur Talk 2018 oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA) di Menara BCA, belum lama ini.

Tren Bepergian

Karena lebih mementingkan pengalaman, milenial senang bepergian ke tempat baru. Hal ini juga didukung maraknya penerbangan dan hotel murah. Internet dan teknologi juga membuat dua hal ini dapat diakses melalui platform tertentu.

"Beberapa perusahaan bahkan memberi keleluasaan dengan layanan cicilan. Liburan ke Selandia Baru kini bisa dicicil mulai dari Rp4 juta. Itu menarik bagi milenial," kata Yuswohady.

Bisnis Ritel berbasis Leisure

"Pertokoan tradisional seperti Mangga Dua, Glodok dan Metro Pasar Baru mengumumkan penurunan penjualan sampai 50%. Apakah konsumen, khususnya generasi milenial tidak berbelanja lagi?" tanya Siwo, panggilan akrab Yuswohady.

Tentu tidak. Mereka tetap berbelanja. Namun, gaya belanja mereka bergeser. Mereka menganggap belanja sebagai gaya hidup. Karena itu, kata Siwo, konsumen lebih suka pergi ke pusat perbelanjaan yang mengakomodir kepentingan tersebut.

Karena itu, pusat perbelanjaan seperti Gandaria City, Kasablanka Mall dan Grand Indonesia justru melaporkan peningkatan penjualan.

Kebiasaan Makan Di Luar

Menurut AC Nielsen, kata Siwo, 64% milenial pergi ke restoran sekali sebulan. Masih mengutip survei yang sama, 30% responden bahkan pergi ke restoran sampai lima kali sebulan.

"Mereka tak hanya pergi ke restoran untuk makan. Mereka melakukan sosialisasi, menghabiskan waktu luang dan mengambil gambar bagus. Setiap kali ke restoran, mereka menghabiskan Rp50-100 ribu," katanya.

Bisnis Kebugaran (Wellness)

Bisnis kesehatan juga menjadi salah satu faktor penting perubahan pola konsumsi. Konsumennya adalah mereka yang sadar pada gaya hidup sehat dan peduli pada kebugaran. "Pergi ke tempat-tempat kebugaran atau melakukan yoga menjadi sebuah kebutuhan bagi mereka," tambahnya.

Koneksi Internet sebagai Leisure

Menurut survei Alvars 2017, koneksi konsumen dengan internet kini semakin tinggi. "Dalam sehari, milenial bisa menghabiskan dua jam untuk mengakses ponsel pintar," kata Yuswohady.

Gaya Hidup Minimalis

Berbeda dari generasi sebelumnya yang gemar mengoleksi sesuatu, milenial lebih suka gaya hidup minimalis. "Mereka tak suka mengoleksi dan menumpuk barang di rumah sehingga terlihat seperti gudang. Gaya hidup ini lebih praktis bagi mereka termasuk bila ingin pindah," katanya.

Gaya hidup minimalis inilah, jelasnya, yang membuat mereka lebih senang aplikasi atau platform yang memungkinkan mereka berbagi (sharing economy). Karena itu, aplikasi seperti Google Play Music, Soundcloud, Tidal, Dubsmash dan lainnya menjadi marak.