Mengubah Rasa Rindu Masakan Rumah Menjadi Bisnis yang Sukses

Ayam Rasa Telor Asin
Ayam Rasa Telor Asin

Buat kamu yang pernah merantau untuk menuntut ilmu atau bekerja, berada jauh dari rumah tentu membuatmu merasa rindu, apalagi masakan rumah. Siapa sangka, dari rasa rindu itu, ada pemuda dan pemudi kreatif ini yang malah sukses merintis bisnis.

Pada 2016, Charina Prinandita, Riesky Vernandes dan Michael Veryanto mengubah rasa rindunya menjadi Eatlah. Rumah makan yang menyajikan masakan ayam saus telur asin itu bahkan sempat menjadi viral di kalangan anak muda.

Modal awal kala itu adalah Rp45 juta. Kini, bisnis sudah semakin berkembang dan memiliki 14 cabang. Simak kiat sukses mereka.

Mulai dari Rumah dengan Skala Kecil

Meski Eatlah sudah menjual lebih dari 126 ribu kotak sehari, Charina bilang awalnya hanya 50 kotak. Mereka berjualan di Pantai Indah Kapuk. Hingga tujuh bulan pertama, ia masih menyempurnakan rasa ayamnya agar bisa diterima lidah orang Indonesia.

Anggaran yang minimal akhirnya membuat mereka memasak di rumah dan menjualnya melalui ojek daring (online).

Ojek Daring

Hingga kini, 60% penjualan Eatlah berasal dari ojek daring. Sejak awal, mereka memang fokus pada pasar anak muda yang bekerja. Gerai pun dirancang untuk pembeli yang membawa pulang makanannya.

Hal ini juga memudahkan pemesanan melalui ojek daring. Selain ojek daring, Charisa juga memanfaatkan media sosial sebagai media pemasaran.

Memelajari Pendapatan Pekerja di Suatu Wilayah

Saat ini, Eatlah sudah memiliki gerai di luar Jabodetabek seperti Semarang dan Bandung. Di Semarang, Charina menjual Eatlah lebih murah dibanding Jakarta yaitu seharga Rp30 ribu atau selisih Rp5 ribu dibanding Jakarta.

Salah satu pertimbangannya adalah Upah Minimum Regional (UMR) di kota tersebut.

Jaga Kualitas dan Rasa Makanan

Hingga saat ini, Charina mengaku belum tertarik membuka kemitraan untuk mempercepat penetrasi bisnis . Charina masih ingin menjaga kualitas dan rasa makanan.

"Kalau franchise, bisa lepas kendali. Bisa saja mereka mengurangi porsi karena mau berhemat dan bumbu bisa berbeda dari gerai satu dan gerai lain. Kita tidak mau itu. Kita kirim bumbu dari pusat dan karyawan pun dilatih," paparnya dikutip Detik.

Memanfaatkan Teknologi

Selain Eatlah, Michael Chrisyanto (Mike) punya tiga usaha lain, yakni bisnis clothing line, konsultan desain dan sepatu wanita. Mike mengaku sangat memanfaatkan teknologi. Eatlah mengandalkan Go-Food sebagai media jualan.

Sistem keuangannya menggunakan kasir digital di seluruh point of sale modern (POS). “Kami gunakan Moka POS di seluruh outlet. Sistem ini memungkinkan kami cek penjualan secara real-time, di mana pun dan kapan pun," kata Michael dilansir Bisnis.com.

Khusus POS, fitur yang ditawarkan meliputi kemudahan karyawan menggunakannya karena user interface yang mudah dan ramah.

Tidak Takut Persaingan

Meski mulai bermunculan usaha sejenis, Charina mengaku tidak takut. Ambisinya mengenalkan ayam bumbu telur asin bukan sebagai tren sesaat. Dia ingin makanan tersebut menjelma layaknya sushi atau ramen dari Jepang dan Korea.