Pandangan Unilever dalam Menyambut Tantangan 2021

Unilever
Unilever

Tahun 2020 memang menjadi periode paling menantang bagi sebagian besar masyarakat. Terlebih jelang akhir tahun ini, dampak pandemi COVID-19 semakin terasa, terutama di sektor ekonomi.

Menurut riset yang dilakukan Inventure pada Agustus-September 2020, pandemi COVID-19 telah memberikan dampak pada kondisi keuangan keluarga dan pribadi. Dari 1.121 responden yang tersebar di seluruh Indonesia, 67,6% mengatakan bahwa pendapatan mereka berkurang selama pandemi.

Turunnya pendapatan masyarakat merupakan salah satu sinyal yang diperhatikan para pebisnis atau pemilik usaha, terutama di tahun 2021 nanti. Hal ini diakui Direktur Keuangan PT Unilever Indonesia Tbk. Arif Hudaya dalam Indonesia Industry Outlook 2021 Conference kemarin.

"Tahun 2021 nanti sangat menarik. Banyak tantangan yang akan kita hadapi. Kita tidak tahu apakah situasi akibat COVID-19 akan terus berlanjut atau justru menjadi periode pemulihan," katanya.

Meski memprediksi situasi yang penuh tantangan di tahun depan, Arif merasa optimistis bahwa ke depannya sektor usaha, khususnya FMCG, tetap bisa menjaga momentum pertumbuhan.

Penjualan produk FMCG Unilever tercatat masih tumbuh dengan akumulasi selama Januari-September senilai Rp32,45 triliun atau naik 0,27% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp32,36 triliun.

Arif memprediksi bahwa tahun depan aktivitas masyarakat sebagian besar akan tetap di rumah, sehingga kebutuhan produk rumah tangga yang bergerak cepat akan tetap memiliki prospek positif. Apalagi menurutnya sudah banyak pebisnis yang sudah menyediakan layanan online untuk memudahkan pelanggan.

Dalam konferensi yang dilakukan secara virtual tersebut, Arif juga menegaskan ada empat indikator penting yang harus diperhatikan oleh para pelaku usaha. Indikator tersebut merupakan faktor penting yang akan menentukan daya beli masyarakat pada umumnya.

Dua indikator pertama adalah pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi. Jika pemulihan ekonomi terjadi, maka daya beli masyarakat akan ikut pulih. Namun inflasi yang membuat harga kebutuhan terus meningkat bisa membuat masyarakat kesulitan untuk membelinya. Dua hal ini, menurutnya, harus ada strateginya.

Sementara dua indikator lainnya yang akan menjadi cermin kondisi pasar pada 2021 yaitu tingkat kepercayaan konsumen dan tingkat pengangguran.

"Jika kepercayaan terhadap suatu brand atau produk telah terbentuk, secara otomatis keputusan pembelian akan menjadi sangat mudah. Sebaliknya, konsumen akan lebih banyak pertimbangan atau menahan uangnya," tambahnya.

Sedangkan tingkat pengangguran yang meningkat akan membuat masyarakat kehilangan penghasilannya. Otomatis daya beli mereka juga turun. Menurut Arif, masalah ini akan menimbulkan dampak yang cukup serius bagi para pebisnis.

Langkah yang Harus Diambil Pebisnis

Sebagai pebisnis yang sedang menghadapi situasi ketidakpastian, ada beberapa langkah yang bisa kamu terapkan agar bisnismu tetap bisa bertahan, salah satunya adalah dengan melakukan pengelolaan keuangan yang baik.

Dengan pengelolaan keuangan yang baik, kamu jadi bisa menganalisa pertumbuhan pendapatan bisnismu, sehingga kamu bisa mengambil keputusan atau menentukan strategi yang tepat sebagai bagian dari rencana bisnismu tahun depan.

Nah, soal pengelolaan keuangan bisnis, serahkan saja sama layanan yang sudah dipercaya banyak pelaku usaha, yakni KlikBCA Bisnis. Layanan tersebut akan memudahkanmu mengelola keuangan bisnis serta memiliki berbagai fitur yang akan memudahkanmu, seperti fitur multi-auto transfer, e-billing pajak, pembayaran tagihan, informasi pinjaman, dan lain-lain.

Penasaran dengan KlikBCA Bisnis? Klik di sini.

Nah, itu tadi 4 indikator penting yang harus diperhatikan pebisnis dalam menghadapi tantangan di 2021. Yuk bersiap.