Terus Tumbuh Sehat Menjadi Unicorn

perusahaan rintisan
perusahaan rintisan

Pernah mendengar perusahaan rintisan (startup) unicorn? Predikat tersebut diberikan pada perusahaan rintisan yang berhasil memiliki valuasi lebih dari US$1 miliar (Rp13 triliun). Di Indonesia, setidaknya sudah ada Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak dan Traveloka yang menjelma menjadi unicorn.

Perusahaan rintisan tersebut bisa mencapai titik tersebut salah satunya berkat masuknya dana asing. Menurut penasihat manajemen kekayaan independen Ari Adil, Go-Jek mendapat pendanaan US$550 juta dari konsorsium delapan investor yang digawangi Sequoia Capital dan Warburg.

Tokopedia mendapat US$1,347 miliar, investor terbesar adalah Alibaba pada 2017 senilai US$1,1 miliar. Sedangkan Traveloka berhasil menarik minat penyedia jasa sejenis Expedia untuk berinvestasi senilai US$350 juta pada 2017.

"Hasil riset Google yang dirilis pada akhir 2017 bahkan menunjukkan bahwa nilai investasi di bidang startup teknologi di Indonesia menempati urutan ketiga terbesar setelah sektor migas. Total investasi yang masuk berjumlah Rp40 triliun pada periode Januari hingga Agustus 2017," kata Ari.

Meski demikian, Ari mengakui bahwa investor lokal belum terlalu banyak turun tangan. Karenanya, Ari menyarankan agar investor lokal lebih agresif mendanai perusahaan rintisan.

Untuk itu, Arti meminta adanya terobosan peraturan agar investor lokal memiliki kendaraan yang tepat untuk masuk. Di negara lain, investor menggunakan perusahaan modal ventura sebagai kendaraan untuk mendanai perusahaan rintisan melalui produk investasi.

"Badan Ekonomi Kreatif juga merekomendasikan insentif pengurangan pajak bagi pemodal startup. Ini akan mendorong iklim investasi," ujarnya.

Sektor Potensial

Menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, salah satu sektor yang berpotensi besar mendorong sebuah perusahaan rintisan menjadi unicorn adalah pendidikan.

Sebab, hingga kini belum ada perusahaan rintisan bidang pendidikan yang menjadi unicorn. Rudiantara mencontohkan perusahaan rintisan Studi Ilmu yang menyediakan jasa kursus daring pertama di Indonesia dengan biaya langganan terjangkau, lengkap dengan sertifikat daring.

Perusahaan rintisan ini menyediakan ribuan kursus dan video, seperti inggris bisnis, kepemimpinan, dan layanan konsumen.

"Para instruktur Studi Ilmu berlatar belakang sebagai direktur, general manager, dan manajer dari perusahaan-perusahaan besar di Indonesia," tandas Berny Gomulya CEO sekaligus pendiri Studi Ilmu.

Untuk kamu yang saat ini berencana merintis bisnis sendiri, sektor pendidikan bisa menjadi bahan pertimbangan. Kamu bisa memberikan nilai tambah yang belum diberikan perusahaan lain sehingga perusahaanmu tampil unik dan mampu menarik investor.

Semoga beruntung.