3 Daya Tarik Investasi Bodong yang Bikin Korban Percaya

Bungkusnya doang rapih, isinya bodong
Bungkusnya doang rapih, isinya bodong

Di tengah laju perekonomian yang melambat, tiba-tiba ditawarkan investasi dengan keuntungan 50 persen? Hati-hati ya, bisa jadi itu penipuan investasi bodong.

Kasus penipuan seperti ini makin marak terjadi. Modus yang digunakan juga semakin kreatif, berani, dan meyakinkan. Umumnya mereka akan menghubungi korbannya dan menawarkan untuk ikut investasi dengan keuntungan besar, bahkan sampai 50 persen.

Nah yang disayangkan, tidak sedikit yang masih tertipu dan jadi korban. Kira-kira kenapa sih? Simak yuk alasannya seperti pernah diungkapkan Satgas Waspada Investasi berikut ini.

1. Keuntungan Menggiurkan

Saking besarnya keuntungan, para korban sampai mengesampingkan 2L, yakni legal dan logis. Legal mengenai badan usahanya serta Logis mengenai tawaran keuntungan dari investasi yang ditawarkan.

Padahal prinsip investasi adalah high risk high return. Selain itu, investasi pada dasarnya bersifat jangka panjang dan tidak menjanjikan keuntungan instan.

2. Ada Testimoni dari Tokoh-tokoh Ternama

Menurut Satgas Waspada Investasi, banyaknya korban yang masih berjatuhan karena para penjahat ini memang beraksi dengan sangat meyakinkan. Saking niatnya, mereka menggunakan para tokoh-tokoh ternama, seperti artis, influencer, selebgram, pengusaha sukses, hingga tokoh politik dan tokoh agama.

Padahal para tokoh ini belum tentu benar-benar “di-endorse”, jadi brand ambassador, ataupun investor dari produk investasi tersebut. Bisa saja mereka hanya dicatut namanya, atau cuma jadi tamu undangan di suatu acara tetapi yang bersangkutan tidak menyadari digunakan sebagai alat atau daya tarik.

3. Kurangnya Literasi

Ironisnya, maraknya kasus penawaran investasi bodong ini justru karena perkembangan kemajuan teknologi. Dalam menawarkan investasi, penjahat kerap memberikan kemudahan. Misalnya seperti korban tak perlu keluar rumah.

Pelaku tinggal meminta data-data tertentu, termasuk kode OTP yang dikirim ke SMS korban dengan dalih syarat untuk berinvestasi. Korban yang sudah percaya pun menyerahkan segalanya, termasuk data penting yang seharusnya tidak diberikan ke orang lain seperti nomor kartu debit atau kartu kredit, tiga digit angka di belakang kartu debit atau kartu kredit, dan lain-lain.

Hal ini bisa terjadi karena rendahnya tingkat literasi keamanan digital di masyarakat. Maka dari itu, yuk lebih waspada lagi dalam menanggapi tawaran-tawaran menggiurkan. Selalu utamakan legal dan logis ya.

Juga update terus pengetahuanmu tentang keamanan digital di tautan ini. Jadilah generasi awas modus!

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.