4 Trik Penipuan Lewat Telepon Paling Sering Berhasil versi OJK

Ilustrasi
Ilustrasi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tak henti mengingatkan masyarakat berhati-hati pada penipuan lewat telepon. Para penipu ini tidak hanya mengaku dari bank, tapi juga menggunakan nomor telepon yang mirip dengan call center asli.

Setidaknya ada empat trik yang paling sering digunakan dan berhasil menipu korbannya. Apa saja?

1. Upgrade Limit Kartu Kredit

Penipu biasanya mengatakan kamu terpilih sebagai nasabah prioritas. Mereka lalu menginformasikan bahwa kamu mendapat penghargaan berupa upgrade limit kartu kredit tanpa syarat. Untuk itu, kamu diminta melakukan pembaruan data kartu kredit agar dalam waktu 1x24 jam, kamu sudah dapat menggunakan kartu kredit dengan limit terbaru.

Di mata kebanyakan masyarakat, pengajuan kenaikan limit dinilai sulit. Pada dasarnya bank harus menganalisa betul apakah nasabah memang layak secara finansial mendapatkan fasilitas upgrade. Namun di sinilah penjahat mengambil kesempatan.

2. Mendapatkan Jenis Kartu Kredit Baru

Motifnya mirip dengan yang pertama. Kamu disebut sebagai nasabah terpilih dan berhak mendapatkan hadiah berupa kartu kredit jenis lain yang punya limit dan benefit lebih besar.

Jenis-jenis kartu kredit ada banyak. Misalnya silver, gold, platinum, titanium, spesial, dan lain-lain. Kebanyakan korban rata-rata tergiur mendapatkan kartu kredit yang “benefitnya” lebih menarik.

3. Hadiah Reward Point

Reward point merupakan benefit kartu kredit yang jarang dicek penggunanya. Hal ini jadi kesempatan penipu untuk menjaring korban.

Mereka menelepon dan menginformasikan bahwa kamu mendapat hadiah point dalam jumlah banyak yang bisa ditukar dengan tiket pesawat, menginap di hotel, atau voucher belanja. Namun untuk mengklaim hadiah, kamu harus menyetor data-data pribadi pada mereka.

4. Informasi Pembatalan Transaksi Mencurigakan

Modus ini paling sering terjadi belakangan. Awalnya kamu mendapat banyak notifikasi OTP via SMS, atas transaksi yang sebenarnya tidak kamu lakukan.

Tidak lama, penipu menelepon dan mengaku dari pihak bank. Mereka menginformasikan bahwa terjadi transaksi mencurigakan yang terjadi berkali-kali dengan kartu kredit kamu.

Selanjutnya, penipu menawarkan pembatalan transaksi, sambil menginformasikan bahwa kartu kredit kamu sedang dibobol. Apabila kamu ingin transaksi dibatalkan, maka kamu harus memberikan nomor CVV dan kode OTP kepada pelaku.

OJK mengingatkan, pihak bank asli tidak akan meminta data penting seperti nomor CVV dan kode OTP. Jika ada orang yang mengaku dari pihak bank dan meminta dua data tersebut, maka besar kemungkinan mereka adalah penipu.

Selain meminta data secara langsung, kadang penipu hanya mengarahkan kamu mengakses situs atau web palsu yang terlihat sama dengan web aslinya. Lantaran web terlihat mirip, kamu bisa terkecoh dan percaya begitu saja, kemudian mengisi data pribadi beserta kode OTP yang diincar mereka.

Maka dari itu, yuk tingkatkan kewaspadaan kita pada tiap modus penipuan. Jangan berikan data penting seperti tiga digit angka di belakang kartu (CVV), apalagi kode OTP.

Sebarkan informasi ini ke keluarga dan teman-temanmu agar mereka waspada.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.