Alasan untuk Mulai Mengurangi Penggunaan Uang Fisik (1)

uang
uang

Teknologi sudah semakin maju. Penggunaan internet pun sudah sangat berkembang di berbagai industri, termasuk perbankan. Transaksi menjadi semakin mudah dan efisien karena bisa dilakukan secara elektronik. Dalam kondisi ini, apakah preferensi transaksimu juga sudah berubah?

Bila belum, maka segera biasakan diri untuk melakukan transaksi secara elektronik. Sebab, selain lebih aman, juga praktis dan mudah terlacak. Hal ini pula yang akhirnya mendorong Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) turut mengkampanyekan dan mendorong transaksi nontunai.

Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin mengatakan, pihaknya mendorong pembahasan rancangan undang-undang pembatasan transaksi uang kartal untuk meminimalkan tejadinya tindak pidana. Kiagus mengungkap, ada delapan poin dasar PPATK mengusulkan pembatasan transaksi tunai.

"PPATK berharap ketentuan ini bisa tertuang dalam undang-undang," ujar Kiagus di PPATK seperti dilaporkan Kompas. Pertama, hasil riset PPATK menunjukkan, ada peningkatan tren transaksi uang kartal. Tren ini disinyalir untuk mempersulit upaya pelacakan asal-usul uang yang berasal dari tindak pidana.

Pelaku berusaha memutus pelacakan aliran dana pada pihak penerima dana dengan melakukan transaksi tunai. Hal ini berbeda dengan transaksi nontunai dalam jumlah besar yang bisa dilacak PPATK.

"Penetapan RUU ini akan membantu upaya dari sisi pencegahan maupun penindakan dan pemberantasan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang)," kata Kiagus.

Kedua, penerapan pembatasan transaksi uang kartal juga mengurangi biaya pencetakan uang oleh Bank Indonesia (BI). Selain itu, juga akan menekan peluang pelaku yang ingin memproduksi uang palsu.

Ketiga, ada pergeseran kebiasaan transaksi perbankan sebagian masyarakat. Menurut Kiagus, sebagian masyarakat yang semula sering melakukan transfer untuk transaksi, kini menjadi transaksi tunai berupa setor tunai dan tarik tunai.

Keempat, transaksi dengan uang kartal tidak sejalan dengan tujuan cashless society di mana dilakukan dalam jumlah besar. "Biasanya di atas Rp 500 juta. Kurang aman, ini mempersulit pelacakan transaksi yang terjadi," kata Kiagus.

Pembatasan transaksi uang kartal juga menyejajarkan Indonesia dengan negara maju. Selain itu, pembatasan ini akan mendidik masyarakat mengoptimalkan penggunaan jasa perbankan dan penyedia jasa keuangan lain.

Berlanjut ke bagian kedua untuk mengetahui alasan selanjutnya.

MORE FROM MY SITE