Awas Phishing Masih Merajalela, Ini Cara Menghindarinya (Bagian 1)

Ilustrasi phishing.
Ilustrasi phishing.

Perkembangan teknologi digital memang seperti mata pisau. Satu sisi bisa sangat bermanfaat, di sisi lain bisa merugikan dirimu.

Salah satu modus tindak kejahatan yang masih marak terjadi saat ini adalah pencurian data alias phishing. Modus ini pun masih memakan korban.

Dalam IdEA Marketing Forum bertajuk Securing Consumer Loyalty, dijelaskan bahwa phishing ini umumnya dilakukan dengan cara mencuri data penting orang lain meliputi data pribadi (nama, alamat, email, nomor ponsel, dan lainnya). Modus kejahatan ini juga mencuri data terkait dengan keuangan seperti data bank (nomor rekening), data ATM (nomor dan PIN), serta data kartu kredit (nomor, pin, jenis kartu, nomor di belakang kartu kredit.

Dalam dunia digital, kejahatan kartu kredit ada istilahnya lagi. Biasanya dikenal dengan istilah carding. Kejahatan ini bisa terjadi karena pelaku telah memiliki data-data penting yang diinginkannya.

Lantas bagaimana sih data kita bisa dicuri? Pencurian dalam dunia digital berbeda ya dengan tindak kejahatan sejenis di dunia nyata. Dalam dunia digital, pelaku tidak meminta data rahasia dengan kekerasan atau diam-diam tanpa sepengetahuan kamu.

Namun pencurian data kerapkali tidak disadari para pemilik data. Terkadang korban dijebak dan malah memberikan data pribadinya secara sukarela. Jadi sangat penting lho berjaga-jaga dan menambah wawasan soal modus phishing apa saja yang bisa merugikanmu.

Sebenarnya kamu bisa mendeteksi adanya upaya tindak kejahatan pencurian data dengan melihat ciri-cirinya. Namun ya itu tadi, saking lihainya pelaku melakukan penipuan, korban tetap saja berjatuhan.

Pelaku kejahatan ini terbilang profesional. Dalam menjalankan bisnis ilegalnya, mereka punya jaringan yang lengkap mulai dari pencari data, pengolah data, bahkan sampai eksekutor data untuk transaksi ilegal.

Beberapa modus jebakan phishing yang biasa digunakan pelaku dan perlu kamu ketahui antara lain melalui:

1. Telepon atau Email

Umumnya mereka akan menelepon nasabah. Pelaku mengatakan akan membantu korban meng-update data perbankan (termasuk kartu kredit) pribadi tanpa harus ke bank. Nah, kamu patut curiga di sini.

Jangan langsung percaya, sebab asal tahu saja, bank biasanya selalu menyarankan kamu untuk datang langsung ke cabang untuk melakukan pembaruan data. Kalaupun tidak, kamu sendirilah yang harus melakukan sendiri, tanpa ada campur tangan pihak bank.

2. Permintaan Mengisi Survei

Cara ini bisa melalui internet, email, atau telepon. Lantaran permintaan survei adalah hal wajar, justru inilah yang kerapkali diabaikan banyak orang.

Kamu perlu waspada bila ada pertanyaan yang sudah menyangkut hal-hal sensitif terkait data keuangan (pin atau nomor rekening). Jadi jika ada permintaan survei yang mengatasnamakan bank, pastikan dulu apakah informasinya benar atau tidak dengan menelepon langsung ke call center.

3. Melalui Transaksi Online

Transaksi online saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup baru di zaman modern. Modus phishing melalui transaksi online biasanya dijalankan melalui penawaran produk murah, tawaran bisnis, dan lainnya.

Nah, kamu jelas harus waspada pada iklan seperti ini karena bisa saja malah menguras rekening dan kartu kredit jika sampai data kamu tercuri.

Biasanya untuk menarik peminat, program tersebut dibuka dengan kata-kata promosi yang sangat bombastis sehingga bisa membuatmu melakukan transaksi tanpa ragu.

Itulah tadi 3 modus yang kerap dilakukan pelaku kejahatan phishing selama ini. Ingat, dari semua media yang digunakan, hampir semuanya selalu meminta data terkait rekening. Maka dari itu, tingkatkanlah kewaspadaan kita ya. Jangan ragu untuk konfirmasi ke layanan call center bank atau klik tautan ini untuk informasi lebih lanjut.