Awas Phishing Masih Merajalela, Ini Cara Menghindarinya (Bagian 2)

Ilustrasi pencuri data.
Ilustrasi pencuri data.

Siapa tidak tergiur dengan barang murah? Siapa pula tidak tertarik dengan beragam diskon dan promo yang bombastis. Sayangnya, semua itu juga berjalan seiring dengan modus kejahatan yang siap menguras rekeningmu.

Seperti dibahas dalam artikel berjudul Awas Phising Masih Merajalela, Ini Cara Menghindarinya (Bagian 1), kita sudah dikenalkan dengan berbagai modus yang biasanya digunakan pelaku. Dengan sangat profesional, pelaku yang yang sudah terorganisir ini kian pandai memanfaatkan kelengahan nasabah bank.

Tidak sedikit yang begitu mudahnya memberikan data pribadi ke pihak yang mengaku berasal dari instansi resmi. Dengan iming-iming hadiah besar, kita pun lupa pada hal-hal yang sebenarnya bersifat privasi dan tidak boleh diketahui orang lain.

Data pribadi sudah seperti harta berharga. Hal itulah yang membuat tindak kejahatan pencurian data atau phishing masih merajalela hingga sekarang.

Nah, setelah di artikel sebelumnya dijelaskan soal modus dan media yang digunakan pelaku, sekarang yuk kita lihat cara kerja phishing yang kerap tidak disadari banyak orang.

Sederhananya, cara kerja phishing mengambil data pribadi melalui transaksi yang dilakukan oleh pemilik kartu melalui toko online atau transaksi ke situs penjual produk secara online. Ini dia yang patut kamu perhatikan.

Sekarang ini membuat situs yang melayani transkasi online sangatlah mudah. Untuk mendesain situs tersebut biar menarik dan populer juga tidak butuh biaya mahal. Jadi, jangan mudah berbagi data pribadi dengan situs yang tidak resmi. Jika sembarangan, bukannya mendapatkan kemudahan, data kamu malah mudah tercuri dan bisa disalahgunakan orang tidak bertanggung jawab.

Agar mengurangi risiko tersebut, coba perhatikan hal di bawah ini. Ini adalah beberapa transaksi yang patut kamu waspadai karena berpotensi menimbulkan phishing.

1. Pembelian Software Melalui Smartphone

Pernah mendengar saudara atau temanmu mengeluhkan tagihan kartu kredit yang membengkak? Umumnya mereka yang mengalami hal itu karena membeli software tertentu melalui smartphone. Nah, cobalah untuk mengurangi transaksi seperti itu.

2. Tawaran Produk ke Rumah

Belakangan modus ini juga makin banyak makan korban. Tidak melalui telepon, tidak melalui email, tapi datang langsung ke rumah. Biasanya produk yang ditawarkan meliputi tawaran paket seperti handphone, tiket pesawat, produk liburan, diskon restoran, dan lainnya. Harganya sangat miring sehingga sulit untuk menolaknya.

Setelah korbannya tertarik, pelaku kemudian menawarkan pembayaran dengan menggunakan kartu kredit agar lebih simpel. Nah, jika orang tersebut membawa mesin besar kemungkinan dia adalah pelaku phishing. Saat kamu setuju dengan tawarannya, lalu menggesek kartumu, jangan kaget kalau tabunganmu akan terkuras atau tagihan membengkak. Sebab ketika betransaksi, kamu telah memberikan data melalui skimming device yang mereka bawa.

Cara Menghadapi Modus Phishing

Lalu bagaimana bila kita menghadapi modus phishing seperti ini? Ada beberapa cara yang bisa dilakukan.

1. Konfirmasi Kepada Pihak Bank

Ini wajib ya. Sebaiknya konfirmasi dulu ke pihak bank sebelum memberikan data kepada pihak yang meminta. Perlu diingat bahwa pihak bank tidak pernah melakukan permintaan data nasabah melalui telepon, email, atau surat. Jika ada masalah dengan rekeningmu, prosedur tetap dilakukan langsung di bank, bukan diselesaikannya melalui telepon atau email.

2. Lindungi PIN

Selanjutnya tentu saja jangan memberitahukan kode pin kamu ke siapapun, termasuk petugas bank sekalipun. Buat PIN seunik mungkin dan usahakan kode tersebut tidak mudah ditebak orang lain.

Hindari menuliskan kode-kode rahasia termasuk PIN di tempat yang mudah terlihat orang lain seperti buku catatan. Itu sangat berbahaya lho. Menyimpan PIN di ponsel atau gadget lainnya sebenarnya juga tidak dianjurkan meski terlihat praktis. Yuk tingkatkan kewaspadaan kita. Klik tautan ini untuk informasi seputar skimming yang bisa mengancam data dirimu.