Bersifat Universal, Asuransi Syariah Bisa Digunakan Nonmuslim

Bersifat Universal, Asuransi Syariah Bisa Digunakan Nonmuslim
Bersifat Universal, Asuransi Syariah Bisa Digunakan Nonmuslim

Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini mulai banyak produk Syariah bermunculan, entah investasi, perbankan atau asuransi. Misalnya pada kasus asuransi. Penetrasi asuransi Syariah saat ini belum maksimal karena pengetahuan masyarakat yang masih minim soal asuransi ini.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Taufik Marjuniadi mengungkap, salah satu hal penting yang perlu diingat adalah asuransi syariah, baik asuransi jiwa, asuransi umum, maupun reasuransi, bersifat universal.

Artinya, asuransi syariah tak hanya diperuntukkan kaum muslim. Taufik menjelaskan, jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar merupakan peluang tumbuh dan berkembangnya industri asuransi.

Apalagi, semua pemangku kepentingan di industri ini tak melakukan pengotakan antara kaum muslim dan nonmuslim.

"Kami tak mengotak-kotakkan yang muslim dan non muslim," jelas Taufik baru-baru ini. Taufik bilang, faktanya banyak nasabah nonmuslim memanfaatkan produk dan layanan keuangan berbasis syariah termasuk asuransi.

Alasannya, nasabah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai prinsip asuransi syariah. Hal demikian juga terjadi pada pasar modal berbasis syariah. Taufik mencontohkan, ada saja nasabah nonmuslim yang enggan berinvestasi pada bisnis minuman keras karena tak mengonsumsinya.

"Berdasar pengalaman saya, banyak warga nonmuslim lebih memilih asuransi syariah. Mereka mengejar transparansi dan hasil investasinya yang lebih baik," ungkap Taufik.

Berdasar data AASI, aset asuransi jiwa syariah per Agustus 2016 mencapai Rp 26,573 triliun. Kontribusi aset tersebut baru mencakup 6,48% dibanding keseluruhan industri asuransi jiwa.