Ditagih Pinjol Padahal Tak Pernah Pinjam? Berikut Analisa Modus Penipuannya!

Tagihan fiktif jadi modus pinjol ilegal baru yang meresahkan masyarakat.
Tagihan fiktif jadi modus pinjol ilegal baru yang meresahkan masyarakat.

Pernah ditagih pinjol (pinjaman online) padahal tak pernah melakukan pinjaman? Hati-hati ya, itu adalah modus penipuan baru dari pinjol ilegal.

Modus ini sedang marak belakangan. Pemerintah melalui OJK sudah berulang kali memperingatkan masyarakat untuk tidak menanggapi apalagi menganggapnya serius. Namun lantaran isi pesannya mengandung intimidasi, tak sedikit korban yang takut dan akhirnya mengikuti kemauan penipu.

Isi pesannya sendiri bisa bermacam-macam. Ada yang menyertakan tautan, nomor tagihan palsu, ataupun menyertakan nama dan alamat korban yang memang sudah mereka dapatkan datanya.

Berikut beberapa contohnya:

1. Menyertakan link berbahaya

(Sumber: Tangkapan layar dari Krediblog)
(Sumber: Tangkapan layar dari Krediblog)

Link yang disertakan kalau kamu telusuri, seperti contoh di atas, domainnya ternyata berasal dari negara lain.

(Sumber: Tangkapan layar dari Krediblog)
(Sumber: Tangkapan layar dari Krediblog)

Isinya pun berupa permintaan akses yang tidak saja melanggar privasi, tetapi juga sangat berbahaya. Bisa kamu lihat, request permission-nya berikut ini.

(Sumber: Tangkapan layar dari Krediblog)
(Sumber: Tangkapan layar dari Krediblog)

2. Disertai ancaman

(Sumber: Tangkapan layar dari @The Social Adventurer)
(Sumber: Tangkapan layar dari @The Social Adventurer)

Jika kamu benar-benar meminjam di pinjol ilegal, maka ancaman tersebut benar adanya. Namun jika merasa tidak pernah meminjam, berarti itu hanya mengada-ada.

3. Menyertakan nomor tagihan palsu

(Sumber: Tangkapan layar dari @The Social Adventurer)
(Sumber: Tangkapan layar dari @The Social Adventurer)

Dengan menyertakan nomor tagihan dapat membuat korban ragu, takut, sekaligus bertanya-tanya apakah dirinya benar-benar pernah meminjam atau tidak.

4. Menggunakan data diri beserta alamat

(Sumber: Tangkapan layar dari @The Social Adventurer)
(Sumber: Tangkapan layar dari @The Social Adventurer)

Pelaku sebenarnya sudah mengantongi data diri calon korbannya. Mulai dari nama, alamat, hingga akun media sosial dimilikinya.

Keempat contoh di atas tentu hanya sebagian kecil contoh yang pernah beredar di masyarakat. Dilihat dari kata-katanya yang sangat general, pesan jenis ini biasanya ditujukan untuk penerima dalam jumlah yang sangat banyak.

Nah, kalau kamu menerima pesan tersebut, abaikan saja dan blokir. Untuk alasan apapun jangan pernah mengeklik dan menginstall link aplikasi yang disertakan.

Jika terlanjur diklik, apalagi terlanjur bayar, segera lapor ke kepolisian terdekat atau kontak ke OJK di nomor 157 atau WhatsApp 081 157 157 157.

Edukasi hal ini ke anggota keluargamu ya.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.