Ini Bedanya Dana Darurat dengan Tabungan dan Investasi

Ilustrasi bedanya dana darurat dengan tabungan dan investasi
Ilustrasi bedanya dana darurat dengan tabungan dan investasi

Dana darurat itu penting. Namanya saja darurat, kita tidak pernah tahu kapan membutuhkannya. Tampaknya sebagian anak muda belum menyadari hal ini. Mereka menyisihkan penghasilan untuk menabung, melakukan investasi secara berkala, tapi tidak menyiapkan dana darurat.

Ketiga hal itu jelas berbeda. Tabungan dan investasi biasanya mempunyai tujuan spesifik. Waktu penggunaan dana juga bisa diukur. Misalnya, investasi saham, tabungan untuk pensiun, tabungan pendidikan sekolah anak, atau tabungan untuk membeli mobil secara tunai.

Sementara, dana darurat disiapkan untuk kondisi genting yang tidak dapat diduga dan dapat menimpa kita kapan saja. Misalnya, bencana alam, kebakaran, kecelakaan, kehilangan pekerjaan, dan musibah lainnya.

Ibaratnya sedia payung sebelum hujan, sebaiknya dana darurat disimpan secara terpisah dari tabungan dan investasi. Tentu saja tujuannya untuk menghindari penggunaan dana darurat secara serampangan, di luar kondisi yang mendesak.

Perbedaan dana darurat dengan tabungan dan investasi ada pada jumlahnya. Biasanya, orang menabung dan melakukan investasi secara berkala, dengan jumlah yang merupakan persentase dari pendapatannya.

Misalnya, si A menyisihkan sejumlah 30 persen dari gaji bulanannya untuk ditabung, dan 20 persen untuk investasi dalam bentuk reksa dana, obligasi, ataupun saham. Sehingga jumlahnya semakin lama semakin bertambah.

Sebaliknya, dana darurat biasanya berjumlah tetap. Namun, jumlahnya banyak. Idealnya, kamu yang masih lajang menyiapkan enam kali dari pengeluaran rutin bulanan. Jika pendapatanmu Rp5 juta per bulan dengan pengeluaran Rp3juta, ada baiknya kamu “mengamankan” Rp18 juta untuk dana darurat. Untuk kamu yang sudah menikah, idealnya menyiapkan 12 kali dari pengeluaran rutin.

Angka-angka kelipatan tersebut barangkali tampak sangat besar dan menakutkan. Apalagi untuk anak muda yang identik dengan gaya hidup tinggi. Namun, setiap orang harus memilikinya. Kamu bisa mengatasinya dengan mulai mengumpulkan uang dengan cara berhemat.

Yang penting adalah dedikasi. Perlakukan dana darurat sebagai tagihan tetap yang harus dibayar bulanan. Anggap saja sebagai utang. Saat dana sudah tercapai, jaga baik-baik. Tentukan prioritas mana yang termasuk darurat, dan mana yang bukan. Tetapkan hari, jangan sampai tergoda menggunakan dana darurat untuk belanja.

Salah satu strategi mengatur keuangan secara cermat di usia muda adalah dengan membuat tabungan berjangka. Prosesnya pun sangat mudah. Kamu bisa mengalokasikan penghasilan dengan memanfaatkan tahapan berjangka, seperti yang ditawarkan oleh BCA.

Dengan Tahapan Berjangka BCA, kamu bisa lebih disiplin menabung karena menggunakan sistem autodebet. Banyak keuntungan dan manfaat yang bisa kamu rasakan setelah menggunakan Tahaka. Klik tautan ini untuk informasi detail soal tahapan berjangka dan siapkan tabunganmu untuk dana darurat.