Jangan Sembarang Pilih Fintech, Ini Kiat Agar Tidak Jadi Korban

Tips agar tidak menjadi korban fintech
Tips agar tidak menjadi korban fintech

Pinjaman online atau pinjol sepertinya memang makin diminati banyak orang. Hal ini tak terlepas dari makin banyaknya perusahaan fintech peer to peer (p2p) lending yang bermunculan.

Masyarakat jadi memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan pinjaman dana. Apalagi pencairan dana di fintech lending biasanya lebih cepat dan mudah.

Pinjol belakangan ini menjadi solusi untuk mereka yang memerlukan uang dalam waktu cepat. Bahkan ada yang bisa cair cuma 2 hari. Sudah begitu persyaratannya juga ada yang cuma bermodalkan bukti identitas KTP dan sejumlah data diri lainnya.

Namun, hal di atas rupanya tak semanis kenyataannya. Di antara banyaknya fintech, banyak juga penipuan pinjol yang sudah memakan korban. Umumnya dilakukan oleh fintech ilegal atau yang tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Hal inilah yang membuat kamu harus berhati-hati dalam memilih fintech.

Persis seperti yang dikatakan Wakil Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Armand Hartono, saat menjadi pembicara di CNBC Indonesia VIP Forum bertajuk "Banking & Fintech: Inovasi dan Peran Digital Dorong Inklusi Keuangan", beberapa hari lalu.

Menurutnya, kemunculan Fintech memang membawa hal yang baru. Dalam bidang apapun, sesuatu yang baru akan semakin bagus. Tak terkecuali bagi dunia perbankan sendiri.

"Hadirnya industri baru ini (fintech), biasanya akan membawa komunitas baru untuk kami (perbankan)," ujar Armand. "Namun lagi-lagi, fintech yang mana dulu," imbuhnya.

Pernyataan tersebut sekaligus memberi peringatan agar kita selalu berhati-hati dalam memilih fintech. Nah, di bawah ini ada beberapa kiat agar kamu tidak jadi korban fintech abal-abal. Yuk simak.

1. Pastikan Fintech Terdaftar di OJK dan AFPI

Ini sangat penting. Sebelum meminjam, pastikan nama perusahaan fintech tersebut terdaftar di OJK dan AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia). OJK ini perannya mengawasi, mengatur, dan melindungi nasabah dalam menggunakan layanan fintech. Sedangkan AFPI menjadi mitra strategis OJK dalam menjalankan fungsi pengaturan dan pengawasan para penyelenggara Fintech P2P Lending di Indonesia.

Meminjam data OJK, per April 2019 kemarin, jumlah fintech yang terdaftar sudah 114 perusahaan. Jangan ragu untuk cek ya.

2. Pilih Fintech yang Tersertifikasi ISO 27001

Nah, terdaftar di OJK saja belum cukup. Kamu juga harus menyeleksi yang sudah menerapkan ISO 27001. Seperti yang kamu tahu, Sistem ISO ini telah dilakukan oleh perbankan, dan sekarang sudah mulai diberlakukan untuk fintech pinjaman.

Perlu kamu tahu juga Sertifikasi ISO 27001 adalah standar yang sudah ditetapkan Kementerian Komunikasi dan Informasi melalui Permen Kominfo No. 4 Tahun 2016 Tentang Sistem Manajemen Pengamanan Informasi dan menjadi persyaratan dari OJK melalui POJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.

Jadi Sertifikasi ini membuktikan bahwa fintech tersebut memiliki tata kelola data nasabah yang baik sesuai standar internasional. Jadi kamu pun bisa terhindar dari hal-hal macam penyalahgunaan data diri.

3. Cukup Satu Fintech Pinjol

Ingat, pinjaman kamu ini berarti utang. Berutang ke banyak tempat sangat tidak dianjurkan. Hindari sikap gali lubang tutup lubang. Atur keuanganmu agar bisa melunasinya tepat waktu. Nah, di fintech ilegal, penagihannya bisa membuatmu menderita. Kamu bisa dikejar-kejar debt collector atau diteror hingga ke media sosialmu.