Korban: Kalau Anak Saya Enggak Tutup Telepon, Habis Uang Saya

Penipuan lewat telepon masih marak dan terus memanfaatkan kelengahan korban.
Penipuan lewat telepon masih marak dan terus memanfaatkan kelengahan korban.

Lihai, licin, terlatih, apa lagi? Pokoknya, entah kata apa yang pas untuk menggambarkan karakter penipu-penipu ini. Dengan berpura-pura mengaku dari pihak bank, mereka bisa menggasak semua saldo rekening, CVV kartu kredit, username dan password email, serta data-data penting lainnya.

Memang seperti apa sih bentuk penipuannya? Bagaimana cara penipu mengelabui nasabah sampai-sampai saldonya bisa tersedot habis?

Simak yuk penuturan langsung dari Ibu Timurbarat (nama disamarkan) yang menuangkan pengalaman buruknya saat menjadi korban penipuan yang mengatasnamakan bank.

Ceritanya terjadi bulan lalu. Ibu Timurbarat (48 tahun) adalah ibu dari rekan penulis. Ia pernah menjadi dosen di salah satu universitas swasta, namun memutuskan pensiun dini dengan alasan kesehatan.

Seperti biasa, jam 10 pagi ia menjaga cucunya yang masih bayi. Putrinya (26 tahun) kebetulan sedang bekerja di rumah (WFH). Suaminya sudah tiada dan dua anak lainnya bekerja di kantor.

Ibu mendapat panggilan telepon. Nomornya cantik. Ia pun mengangkatnya.

Penelepon lalu mengenalkan diri sebagai pegawai bank dan mengatakan bahwa ada yang mencoba membobol kartu kredit sang Ibu. Spontan saja Ibu panik dan menanyakan apa yang harus ia lakukan.

Penelepon kemudian meminta Ibu tenang lalu memberikan nomor kartu kredit dan CVV alias tiga digit angka terakhir di belakang kartunya. Alasannya, agar bisa dilakukan blokir.

“Ibu tenang dulu, saat ini kami bantu proses pemblokiran. Baru saja ada percobaan transaksi untuk pemakaian hotel, tiket pesawat, dan pembelian laptop,” kata Ibu menirukan perkataan penelepon yang jelas-jelas penipu.

“Oh sebentar, saya ambil kartunya dulu,” kata Ibu. Sambil panik ia menggendong cucunya yang masih bayi tadi dan menyerahkannya ke putrinya yang sedang bekerja.

“Kartu kredit ibu ada yang mau bobol, ini bank telepon. Mau bantu blokir,” kata Ibu pada putrinya itu.

Nadia, putrinya, langsung menyambar telepon Ibu. Ia menanyakan apa yang terjadi. Dan begitu penelepon meminta nomor kartu kredit dan CVV, Nadia langsung menutupnya.

Ia tahu betul bahwa CVV adalah salah satu data penting yang tidak boleh diberikan kepada siapapun.

Ibu pun duduk lemas setelah diberitahu anaknya bahwa barusan adalah percobaan penipuan. Ia mengucap syukur karena hampir saja menyerahkan data penting ke pelaku penipuan.

“Kalau anak saya enggak tutup telepon, habis uang saya,” katanya kepada Smart-Money.co.

Penipuan Atas Nama Bank Makin Marak

Ini bisa jadi pelajaran buat kita semua. Pasalnya kejahatan penipuan seperti ini (fake caller) memang sedang marak belakangan.

Biasanya pelaku tidak sendiri. Saat sudah mendapatkan nomor kartu kredit dan CVV, pelaku lainnya akan segera belanja dengan kartu kredit tadi.

Parahnya lagi, penelepon akan menawarkan untuk mengamankan aset-aset perbankan lainnya. Jadi korban akan diminta data-data seperti nomor kartu ATM beserta PIN, username & PIN mobile banking, hingga kode OTP. Korban yang sudah percaya dengan penipu pun dengan mudahnya memberikan data-data tersebut.

Nah, untuk kamu para generasi anti modus, yuk edukasi anggota keluargamu untuk selalu hati-hati saat menerima telepon, terutama yang mengaku-ngaku dari perusahaan atau instansi tertentu, termasuk dari bank.

Bagaimanapun, bank tidak akan pernah meminta nasabah untuk memberikan data-data rahasia perbankan. Apalagi kode OTP.

Sebenarnya ada cara menghindari upaya penipuan ini. Apa saja?

Simak deh, 3 Cara Terhindar dari Penipuan Atas Nama Bank versi BCA di tautan ini.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.