Mengenal Latte Factor, Biang Keladi Hidup Boros

Mengenal latte factor si biang keladi hidup boros
Mengenal latte factor si biang keladi hidup boros

Lita, wanita berusia 30, telah bekerja selama 6 tahun. Gajinya sudah dua digit. Dengan penghasilan tersebut, teman-temannya menduga ia sudah punya minimal rumah atau apartemen serta tabungan yang lumayan.

Namun dugaan itu ternyata sama sekali meleset. Jangankan rumah sendiri, Lita tidak punya tabungan. Gajinya selalu ludes. Malahan ia kerap bingung kalau ditanya ke mana saja uangnya pergi.

Setelah diingat-ingat lagi, rupanya sebagian besar gajinya habis untuk gaya hidup. Mulai dari kopi, jajanan, sampai belanja kecil-kecilan, menggerogoti uangnya.

Masing-masing harganya memang tidak tinggi. Tapi jika ditotal, akumulasinya tergolong besar. Bahkan mendekati gajinya.

Pengalaman Lita pun banyak dialami anak muda sekarang. Bagaimana dengan kamu?

Jika kamu serupa dengan Lita, berarti kamu perlu mengevaluasi perencanaan keuangan kamu. Sebab jika tidak, maka apa yang sudah kamu kerjakan dan dapatkan bisa sia-sia.

Nah, bagi yang belum tahu, fenomena seperti yang dialami Lita ini dinamakan Latte Factor. Istilah ini dikenalkan oleh seorang motivator, penulis, dan pengusaha, David Bach.

Dalam bukunya yang berjudul Finish Rich, Bach mengatakan latte factor mengarah pada kebiasaan seseorang yang selalu menghabiskan penghasilannya untuk hal-hal kecil namun rutin.

Mengapa disebut latte karena memang umumnya mereka punya kebiasaan menghabiskan uang untuk kopi setiap hari. Namun istilah ini tak cuma untuk pengopi saja ya, tapi juga untuk yang suka belanja kecil-kecilan secara rutin setiap hari.

Dilansir dari Forbes, Bach mengungkapkan banyak orang tidak sadar kalau kebiasaannya itu tidak memberi manfaat besar dalam hidupnya. Keuangannya bisa terancam dan dirinya akan tidak punya investasi.

Padahal jika pengeluaran tersebut dikurangi dan dialihkan untuk tabungan dan investasi, justru bisa menjadi sumber pendapatan yang sangat besar lho. Keuangan per bulannya juga bisa lebih stabil dan terhindar dari kesulitan.

Bach mencoba mengingatkan tentang bahayanya latte factor ini. Ia memberi contoh pada mereka yang punya kebiasaan membeli kopi setiap hari.

Hitungannya sederhana. Jika setiap hari membeli kopi berukuran kecil, itu berarti kamu mengeluarkan setidaknya Rp30 ribu. Belum lagi jika kamu menambahkan kue atau donat.

Ini artinya, dalam seminggu, biaya kopi kamu jadi Rp210 ribu. Lalu dalam sebulan, kamu sudah menghabiskan Rp1 juta. Sementara setahun, Rp12 juta kamu keluarkan cuma untuk kopi.

Mungkin saat mengeluarkan uang Rp30 ribu memang tidak terasa besar. Namun jika dijumlahkan kamu akan menemukan angka yang fantastis. Cobalah untuk menguranginya ya.