Modus Kejahatan Siber di Tengah Wabah Korona

Ilustrasi
Ilustrasi

Di tengah pandemi korona SARS-Cov2 penyebab Covid-19 menyerang dunia, ternyata masih ada saja orang-orang jahat yang memanfaatkan situasi. Mereka adalah pelaku kejahatan siber yang siap mengincar siapa saja yang lengah.

Peringatan ini diungkapkan perusahaan cyber security, Kaspersky. Mereka mendeteksi adanya alat serangan baru yang dipakai untuk melakukan aksi kejahatan. Alat baru itu adalah informasi terkait korona.

Seperti kita ketahui, Covid-19 tengah melanda dunia. Miliaran orang tentu saja sedang mencari informasi apapun terkait korona. Di sinilah rupanya orang-orang jahat itu menemukan peluang.

Bulan lalu, Kaspersky mengeluarkan pernyataan dan memperingatkan publik bahwa kita harus berhati-hati pada setiap file baik PDF, MP4, maupun DOCX, karena rentan disamarkan sebagai dokumen yang berkaitan dengan info korona.

Seminggu setelah peringatan itu, sejumlah kejahatan email phising terjadi. Kaspersky mengambil contoh pada kejahatan siber yang menggunakan kop organisasi asli di Amerika, Centers for Disease Control and Prevention.

Jadi kalau dilihat sekilas, email tersebut terlihat biasa saja sampai penerimanya mengeklik tautan cdc-gov.org. Setelah diklik, potensi pencurian data sangat besar terjadi.

Para dedemit siber ini enggak tanggung-tanggung lho. Mereka malahan juga memalsukan email Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sekarang siapa sih yang tidak butuh informasi dari bada kesehatan dunia ini?

Email palsu ini pun terlihat meyakinkan. Ada tips menghindari infeksi, langkah penanganan pasien, dan banyak informasi lain yang sebenarnya mengandung tautan phising yang meminta kita mengisi data diri.

Parahnya lagi, file-file seperti disebut di atas juga berpotensi sudah diisi virus dari Trojan sampai worm yang tentu saja bisa menghancurkan, memblokir, memodifikasi, bahkan merebut operasi komputer kita. Duh amit-amit deh ya.

Mengutip Channel News Asia, Kaspersyky malahan mendeteksi adanya 93 malware terkait korona di kawasan Asia Tenggara yang meliputi Filipina (53), Vietnam (23), Malaysia (20), dan beberapa negara seperti Singapura, Myanmar, Thailand, dan Indonesia yang saat ini angkanya masih satu digit. Ini jelas mengindikasikan bahwa kejahatan siber justru makin marak di tengah wabah korona.

Selain informasi, bahkan ada lagi email yang berisi penawaran masker lho. Modusnya pun sama. Jadi saat kamu sudah memilih masker yang ingin dibeli, kamu akan diarahkan masuk ke halaman login.

Di situlah biasanya kamu akan diminta memasukkan data kartu kredit. Selain itu, ada juga yang menyertakan nomor rekening tujuan pembayaran yang sebenarnya milik pelaku kejahatan.

Nah, mulai dari sekarang, yuk tingkatkan kewaspadaan kita. Jangan gampang percaya pada email-email yang tidak jelas siapa pengirimnya. Lindungi data dirimu.

Jangan pernah memberikan kode OTP ke siapapun karena itu bersifat pribadi dan rahasia. Setidaknya ada tiga data yang mahapenting jangan diberikan ke orang lain. Apa saja? Cek tautan ini.