Penjelasan Lengkap Soal Bahaya Gestun Kartu Kredit

Ilustrasi gesek tunai yang memiliki risiko dan potensi bahaya.
Ilustrasi gesek tunai yang memiliki risiko dan potensi bahaya.

Gestun alias gesek tunai rupanya masih kerap dilakukan para pengguna kartu kredit. Padahal praktik ini memiliki risiko dan potensi bahaya. Bahkan sudah banyak modus penipuan yang terjadi akibat penyalahgunaan kartu kredit tersebut.

Tak cuma untuk pengguna, merchant yang melayani gestun dari pelanggannya juga dapat dikenakan sanksi, sebab Bank Indonesia sudah menegaskan bahwa praktik gestun kartu kredit adalah tindakan ilegal.

Untuk mendalami mengapa gestun sangat dilarang, kita simak ulasan berikut ini.

Apa dan Bagaimana Gestun Dilakukan

Secara sederhana, gestun dilakukan dengan cara menggesek/tap kartu kredit di mesin EDC merchant layaknya transaksi biasa. Tentu saja pihak merchant tidak memberikan barang karena memang tidak ada pembelian. Tapi merchant memberikan uang tunai sesuai yang diminta pemilik kartu.

Atas jasa tersebut, pihak merchant menarik biaya sekitar 3% dari total uang yang didapat pemilik kartu. Padahal jika kamu membeli barang, tidak ada biaya tambahan yang dikenakan ketika membayarnya dengan kartu kredit.

Mengapa Orang Melakukan Gestun?

Ada tiga alasan mengapa orang melakukan gestun di merchant:

1. Biayanya lebih murah

Biaya gestun di merchant memang lebih murah dibanding tarik tunai lewat ATM. Jika tarik tunai di ATM (cara resmi), nasabah akan terkena advance fee Rp50 ribu atau 4% dari dana yang ditarik, tergantung mana yang paling besar.

2. Bisa Mengambil Seluruh Plafon

Gestun bisa mengambil seluruh plafon kartu kredit yang tersisa. Beda dengan tarik tunai di ATM yang dibatasi hingga maksimal 60% dari plafon.

3. Bunga Lebih Kecil

Gestun hanya dibebani bunga 2-2,7% per bulan. Hitungan ini muncul karena bank menilai pemilik kartu melakukan transaksi pembelanjaan di merchant, bukan pengambilan tunai. Sedangkan tarik tunai kartu kredit di mesin ATM, bunganya 2,95% per bulan.

Risiko Gestun Bagi Pengguna Kartu Kredit

Gestun dapat membuat kamu ketagihan dan konsumtif karena merasa bisa mendapatkan uang dengan bunga dan biaya lebih murah. Padahal uang yang kamu dapatkan dari gestun sejatinya tetaplah utang yang harus dibayar tepat waktu. Jika kamu tidak disiplin dalam pembayaran, besar potensinya kamu terjebak dalam "tutup lubang gali lubang".

Bunga 2-2,7% per bulan pun sebenarnya tidak kecil. Sekali saja menunggak, bunga tersebut bisa menjadi besar. Bahkan tanpa kamu sadari, biaya jasa untuk merchant yang sebesar 3% tadi sebenarnya merugikan kamu.

Ambil contoh kamu gestun Rp5 juta. Artinya uang yang akan kamu terima dari merchant hanya Rp4,85 juta. Namun pihak bank tetap mencatat penggunaan dana sebesar Rp5 juta dan kamu pun harus melunasi tagihan dalam jumlah penuh tersebut.

Risiko Gestun Bagi Merchant

Sementara seperti disebutkan di atas, merchant atau penyedia jasa yang ketahuan melayani praktik gestun akan dimasukkan dalam daftar hitam OJK. Sebab praktik ini dianggap sebagai salah satu tindakan pencucian uang (money laundry).

Dalam konteks keuangan, daftar hitam adalah daftar yang dibuat oleh OJK jika merchant melakukan tindakan ilegal. Nama merchant akan dicatat dalam Daftar Hitam Nasional (DHN). Jika tercatat dalam DHN, maka merchant tersebut dapat terkena sanksi seperti penutupan rekening atau bahkan dituntut tindakan pidana.

Nah, jika merchant tanpa diketahui sudah masuk daftar hitam OJK, pengguna kartu kredit yang melakukan praktik gestun di merchant tersebut pun bisa mengalami masalah juga seperti kartu terblokir dan lain-lain. Dampak selanjutnya, kamu bisa saja mengalami kesulitan ketika mencoba mengajukan pembuatan kartu kredit baru karena sudah tercatat pernah bermasalah.

Nah, itulah tadi beberapa informasi terkait gestun yang dilarang Bank Indonesia. Berpikirlah dua kali sebelum melakukannya. Selain berisiko menjebakmu dalam perilaku konsumtif, kamu juga bisa terjerat utang dan terseret masalah serius.

Yuk, jadi pengguna kartu kredit yang bijak. Jangan ikut-ikutan melakukan praktik yang jelas-jelas salah dan dilarang.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.