Semua Hal tentang Carrier, Si Pembawa COVID-19 Tanpa Gejala

Ilustrasi
Ilustrasi

Sejak Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa Virus SARS CoV2 penyebab COVID-19 bisa menular dari manusia ke manusia, publik mulai diimbau untuk menjaga jarak satu sama lain. Pasalnya, tak cuma kontak langsung, penularan juga bisa melalui droplet cairan yang menempel di benda-benda sekitar.

Inilah yang juga terjadi di Indonesia. Jika melihat peta penyebaran korona yang dirilis John Hopkins melalui Center for Systems Science and Engineering (CSEE), kurva penyebarannya cenderung naik terus sejak Maret 2020. Jadi sekarang masih sangat berisiko nih untuk keluar rumah.

Nah, yang perlu kamu ketahui, korona ini bisa ditularkan seseorang yang tidak menampakkan gejala terinfeksi COVID-19 pada umumnya. Orang-orang tak terinfeksi tapi membawa penyakit ini disebut carrier.

Seorang carrier bisa menularkan virus COVID-19 ke orang sekitarnya. Itulah kenapa pemerintah mengimbau pada kita untuk tidak mudik dulu.

Nah, biar pengetahuanmu makin luas, simak yuk 6 hal tentang carrier korona yang perlu kamu ketahui dan edukasi ke orang lain.

1. Sistem Imun

Pertama, kamu perlu tahu dulu kalau tiap orang itu pasti punya imunitas. Namun imunitas sendiri ada dua, yakni immunocompetence dan immunocompromised.

Immunocompetence adalah sistem kekebalan tubuh yang mampu bekerja dengan baik. Imun seperti inilah yang dibutuhkan untuk melawan serangan korona.

Imun ini berperan sebagai pertahanan pertama. Namun ia juga berperan sebagai pertahanan terakhir bila serangan yang datang begitu kuat. Dengan segera, imun ini bakal langsung mengirim sinyal ke tubuh untuk melepaskan sel darah putih dan sel T.

Nah, orang-orang dengan kekebalan tubuh baik inilah yang kemungkinan besar dialami seorang carrier. Korona tak mampu menyerangnya, tapi korona bisa diam di sana dan berpotensi pindah ke orang di sekitarnya.

Sementara immunocompromised itu berarti sistem kekebalan tubuh kita tidak dapat bekerja dengan baik. Inilah yang harus dihindari.

Apabila sistem imun kita tidak berfungsi, korona bisa menghindari deteksi yang dilakukan tubuh sehingga kita akan merasa seperti lesu, panas, dan sebagainya.

Sayangnya, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa korona ini mampu berkembang, berubah, dan beradaptasi dengan cepat. Maka dari itu kemampuan sistem kekebalan tubuh juga harus terus ditingkatkan melalui beberapa langkah hidup sehat.

2. Anak Muda

Anak muda sangat berpotensi menjadi carrier. Kelompok usia ini dianggap memiliki sistem pertahanan tubuh yang cenderung lebih baik daripada usia dini dan para lanjut usia.

Seperti dijelaskan sebelumnya, korona pada anak muda yang memiliki imun yang baik tidak akan bisa masuk. Namun korona ini masih bisa hidup sambil menunggu ada inang baru di sekitarnya.

Ambil contoh, anak muda habis dari bepergian ke tempat ramai. Tanpa ia sadari, korona sudah menempel di tubuhnya. Namun karena ia punya imun yang bagus, korona tersebut akan mencari inang baru melalui anak muda itu.

3. Sampel Darah

Tahukah kamu kalau seseorang yang belum atau tidak menunjukkan gejala awal infeksi justru memiliki risiko penularan cukup tinggi? Sebuah penelitian di University of Texas menyatakan bahwa risiko penularan itu sekitar 10 persen dari 450 kasus yang menjadi bahan observasi.

Jadi kita ambil contoh Yoseph 5 hari yang lalu bertemu rekannya yang baru dinyatakan positif korona. Yoseph tak tahu korona sudah menginfeksi dirinya. Soalnya ia tidak mengalami gejala awal seperti demam, batuk, dan semacamnya.

Selama 5 hari itu, Yoseph sudah bertemu banyak orang termasuk keluarganya. Nah, penelitian mengungkapkan bahwa penularan sudah bisa terjadi (bahkan tinggi), meski Yoseph tak merasakan gejalanya.

Hal ini diperkuat lagi dengan penelitian dari University of Hong Kong yang mengambil sampel darah pasien dengan gejala dan pasien tanpa gejala.

Ternyata, pasien dengan infeksi virus korona tanpa gejala tetap memiliki viral load (kisaran jumlah partikel virus dan jumlah RNA HIV per 1 ml sampel darah). Viral load ini serupa dengan pasien positif COVID-19 yang mengalami gejala seperti demam, batuk, dan sesak napas.

4. Asimptomatik

Agak asing di telinga ya. Asimptomatik ini sebenarnya cuma sebutan lain dari orang yang terinfeksi COVID-19 tapi tanpa gejala umum.

Seperti dibahas di atas, kasus pertama asimptomatik ini memang warga negara Taiwan yang memiliki riwayat perjalanan dari “daerah merah” seperti Hong Kong dan Italia.

Yang perlu kita garis bawahi, laporan soal asimptomatik ini semakin tinggi dan berkembang. Pasalnya tak cukup 14 hari untuk mengetahui masa inkubasi korona di tubuh seorang asimptomatik.

Malahan ada yang sampai menunggu 3 minggu baru ketahuan. Di sisi lain, selama waktu tersebut ia tetap berpotensi menjadi carrier.

5. Berkurangnya Indera Penciuman

Untuk yang satu ini sepertinya jarang tersampaikan ke publik. Namun berkurangnya indra penciuman sebenarnya jadi salah satu gejala awal seseorang yang memiliki virus korona di dalam tubuhnya. Pasalnya, korona ini patogen yang menyerang sistem pernapasan manusia.

Nah, gejala ini dapat muncul tanpa adanya gejala lainnya. Jadi untuk kamu yang merasa kehilangan indera penciuman, sebaiknya segera periksa deh. Ingat kembali apakah kamu baru dari tempat yang berpotensi menularkan korona. Bila perlu, segera lakukan isolasi diri selama 14 hari seperti rekomendasi WHO karena besar kemungkinan kamu menjadi carrier.

6. Baru dari Zona Merah

Anjuran untuk di rumah saja memang bukan main-main. Bagi kamu yang memang terpaksa keluar rumah, pastikan kamu sudah melakukannya sesuai prosedur keamanan COVID-19.

Apalagi dengan adanya fakta bahwa carrier itu tidak menunjukkan gejala sakit. Itulah kenapa sebaiknya, bila kamu baru pulang dari zona merah, apalagi habis melakukan kontak fisik dengan orang yang positif, lakukan isolasi diri.

Itu tadi 6 hal soal carrier, si pembawa penyakit tanpa gejala. Terus waspada dan patuhi imbauan untuk di rumah saja ya.

Lagipula sekarang semuanya bisa dilakukan dengan handphone kok. Mau bayar segala tagihan? Pakai BCA mobile saja.

Mau top up dompet digital? Beli kuota internet? Pakai BCA mobile. Apapun bisa deh dengan aplikasi ini.

BCA mobile sendiri sudah menjadi favoritnya milenial dalam mengatasi kebutuhan transaksi. Klik tautan ini untuk tahu apa saja yang bisa dilakukan BCA mobile selama kamu #diRumahAja.