BI Yakin Peringkat Kredit Indonesia Bisa Naik

BI Yakin Peringkat Kredit Indonesia Bisa Naik
BI Yakin Peringkat Kredit Indonesia Bisa Naik

Seperti diketahui, pemerintah sebelumnya sudah menetapkan target untuk Indeks Kemudahan Bisnis (Ease of Doing Business/EOBD) ke urutan ke 40. Target ini, membuat Bank Indonesia (BI) yakin bahwa lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P) akan menaikkan peringkat (rating) kredit Indonesia di April mendatang.

Menurut Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, peringkat kredit menjadi cerminan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam kondisi sehat. Selain itu, defisit neraca pembayaran juga bisa terkendali.

"Perkiraan Neraca Pembayaran Indonesia akan surplus dan inisiatif pemerintah soal EODB yang menargetkan kenaikan peringkat ke 40 dari 109 akan membantu peringkat kredit. S&P akan datang di April. Semoga upaya-upaya perbaikan bisa memengaruhi pemeringkatan," katanya.

Peringkat S&P ini sangat untuk memicu kepercayaan investor agar aliran dana asing yang masuk ke Indonesia (capital inflow) bisa semakin deras. Capital inflow juga sangat penting bagi neraca pembayaran Indonesia agar tidak mengalami defisit.

Dalam statistik Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) 2015, tercatat jumlah modal masuk ke Indonesia sebesar US$16,7 miliar atau turun 35,77% dibanding aliran tahun sebelumnya yang mencapai US$26 miliar.

Hingga pertengahan Februari 2015, aliran modal asing yang masuk baru tercatat US$2,5 juta. Di Mei 2015, S&P meningkatkan peringkat utang Indonesia dari stable menjadi positif dan mengafirmasi rating pada BB+.

Peringkat ini berlaku selama 12 bulan, sehingga S&P akan memperbarui peringkat Indonesia tiga bulan kemudian. Sebelumnya, Moody's Investors Service, lembaga pemeringkat internasional sudah menempatkan Indonesia sebagai negara layak investasi (investment grade) dengan rating Baa3 dengan stable outlook.

Peringkat ini diberikan karena para pengambil kebijakan sejauh ini efektif mengelola risiko sehingga membuat kondisi ekonomi stabil.

Menurut Moody's, peringkat tersebut berkat pengelolaan keuangan pemerintah yang kuat di tengah peningkatan defisit fiskal dan respons kebijakan otoritas yang efektif mengelola risiko penurunan harga komoditas dan pelemahan pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 4,7% tahun lalu.

Meski rupiah anjlok 11% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di sepanjang 2015, Moody's menilai para pengambil kebijakan sejauh ini efektif mengelola risiko dan membuat kondisi ekonomi stabil.