Alasan Untuk Investasi pada Obligasi

Obligasi Pemerintah
Obligasi Pemerintah

Ada banyak jenis instrumen investasi yang bisa kamu pilih dan tiap instrumen memiliki keunggulan masing-masing. Tugas kamu adalah menyusun portofolio yang solid yang bisa memberikan imbal hasil yang optimal.

Kali ini, tak ada salahnya kamu berkenalan dengan instrumen investasi obligasi ritel (ORI). Melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu), pemerintah membuat gebrakan baru mulai tahun ini melalui ORI dengan sistem pemesanan daring (online).

Gebrakan ini untuk mempermudah akses bagi investor, khususnya generasi muda. Mengacu data Kemenkeu, saving bonds ritel (SBR) 003 yang ditawarkan pada Mei 2018 lalu berhasil menarik perhatian generasi muda usia 25-40 tahun.

Secara keseluruhan, 36,7% kepemilikan SBR003 adalah anak muda. Sementara di seri SBR004, kelompok usia 18-38 tahun memegang kepemilikan sebesar 41%. Kemudian, pemerinntah melanjutkan dengan ORI015 dengan imbal hasil 8,25% per tahun.

Meski masa penawaran sudah habis, namun tidak ada salahnya kamu mengetahui keunggulan instrumen ini untuk investasi ke depannya. Pakar keuangan Kent Thune memberi beberapa alasannya seperti dikutip The Balance.

Kepemilikan Obligasi

"Ketika kamu membeli obligasi pemerintah, kamu mendapat kepastian pengembalian utang dari pemerintah. Selama masa pembiayaan, kamu mendapat yield atau imbal hasil," kata Kent.

Holding Period atau Maturity

Ketika kamu membeli obligasi, baik yang diterbitkan pemerintah atau korporasi, seharusnya kamu menahannya sampai masa jatuh tempo utang (holding period). Masa jatuh tempo utang ini bermacam-macam, mulai dari lima tahun sampai 10 tahun.

Pada surat utang negara (SUN) pemerintah, holding period bisa lebih panjang sampai 30 tahun. Sampai masa jatuh tempo, pemerintah akan membayar imbal hasil setiap periode. Misalnya, tiap tiga, enam atau 12 bulan sekali.

Nilai pokok dari investasi akan dibayar saat jatuh tempo obligasi. Meski begitu, kamu bisa menjual kembali obligasi di pasar obligasi dengan syarat dan ketentuan khusus. Sebelum jatuh tempo, harga obligasi bisa berfluktuasi.

Penyebabnya adalah kondisi ekonomi, baik yang terjadi di ranah nasional maupun global. Investor juga biasanya membuat diversifikasi penempatan alokasi portofolio dari saham ke obligasi.

Kondisi pasar saham yang buruk menjadi alasan utama mereka pindah dari saham ke obligasi. Di samping itu, obligasi juga menjadi salah satu instrumen investasi yang lebih tepat untuk tujuan investasi di jangka menengah ke panjang.

Lalu, di mana kamu dapat membeli obligasi? Selain pada perbankan yang sudah ditunjuk pemerintah sebagai Mitra Distribusi, kamu juga bisa memesan obligasi melalui sistem daring maupun perusahaan teknologi finansial (tekfin).