Berencana Investasi di Reksa Dana? Ini Panduan Mengawalinya

Berencana Investasi di Reksa Dana? Ini Panduan Mengawalinya
Berencana Investasi di Reksa Dana? Ini Panduan Mengawalinya

Bila saat ini Anda berencana melakukan diversifikasi investasi dengan masuk ke dalam reksa dana, ada baiknya Anda memahami terlebih dahulu aturan main yang ada. Demikian, Anda bisa lebih cermat dalam menyusun strategi investasi ke depannya.

Menurut perencana keuangan Annissa Sagita dari Aidil Akbar Madjid & Partners, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.

Profil Risiko

Profil risiko merupakan standar seberapa tahan Anda terhadap risiko investasi yang mengintai. Banyak faktor memengaruhi profil risiko, beberapa diantaranya adalah pengalaman berinvestasi, pola pikir, pekerjaan, lingkungan dan lain sebagainya.

Misal, Anda belum pernah berinvestasi, ada kemungkinan profil risiko Anda adalah konservatif, yaitu belum berani mengambil risiko. Demikian, sebaiknya Anda mulai investasi dengan produk yang risikonya paling kecil. Agar lebih pasti, Anda bisa isi formulir profil risiko di manager investasi (MI).

Tujuan Investasi

Tujuan investasi penting untuk menentukan produk reksa dana apa yang sesuai. Tujuan investasi harus mencakup jangka waktu berinvestasi. Mengetahui lama investasi bisa menghindarkan Anda dari kegagalan investasi.

Sebab, karakteristik tiap jenis reksa dana berbeda-beda. Makin pendek jangka waktu, sebaiknya semakin konservatif atau aman produk yang dipilih, begitu pula sebaliknya.

Tentukan Produk

Data OJK per Februari 2018 menyebutkan, ada total 830 produk reksa dana konvensional di Indonesia. Tentu tidak mudah menemukan produk yang sesuai. Jadi, ada baiknya Anda sudah mengetahui produk yang Anda inginkan sebelum membeli reksa dana melalui MI.

Mengetahui produk sebelum investasi juga bisa mencegah Anda terpengaruh customer service/front office yang melayani Anda. Sebab, tak sedikit dari mereka yang memiliki target penjualan produk tertentu.

Bisa jadi, mereka malah menawarkan asuransi, bukan reksa dana. Selain itu, belum tentu CS/front office yang melayani Anda lebih mengerti dari Anda tentang reksa dana.

Risiko Reksa Dana

Berinvestasi di produk yang diregulasi secara sangat ketat oleh OJK bukan berarti uang Anda aman dari risiko. Tiap produk investasi mengandung risiko. Risiko ini meliputi risiko penurunan NAB jika harga saham dan obligasi turun atau ada obligasi yang gagal bayar dan menurunnya IHSG.

Risiko lainnya adalah resiko likuiditas ketika investor ingin mencairkan uang di reksa dana dan reksa dana tidak memiliki cukup uang karena terjadi pencairan besar-besaran. Beberapa risiko tersebut harus Anda pahami sebelum memutuskan menaruh uang di reksa dana.

Cara Kerja Reksa Dana

Tentu saja, Anda harus mengerti apa dan bagaimana reksa dana itu. Hindari masuk ke produk tertentu karena testimoni teman/rekan/keluarga, karena profil risiko dan tujuan investasi setiap orang berbeda-beda.

Kenali dan Periksa Biaya-Biaya Reksa Dana

Saat berinvestasi di reksa dana, ada beberapa biaya-biaya yang dikenakan pada investor seperti biaya pembelian unit penyertaan (subscription fee), biaya penjualan kembali unit penyertaan (redemption fee), biaya pengalihan unit penyertaan (switching fee), dan biaya transfer bank terkait.

Secara garis besar, biaya pembelian dikenakan saat melakukan pembelian unit penyertaan reksa dana. Biaya penjualan kembali dikenakan saat menjual kembali unit penyertaan reksa dana (mencairkan investasi) yang dimiliki.

Biaya pengalihan adalah biaya transaksi untuk mengalihkan dari reksa dana yang satu ke reksa dana lain yang dikelola oleh manajer investasi yang sama. Untuk biaya-biaya ini, besarnya bervariasi dan ditetapkan MI, namun Anda juga harus memastikan bahwa biaya tersebut tidak melampaui apa yang sudah tertulis di prospektus.