Duh, 40 Persen Milenial Terlilit Utang karena Gaya Hidup

Ilustrasi
Ilustrasi

Ada asap ada api. Ada sebab ada akibat. Begitulah rumusnya—dan berlaku dalam semua aspek kehidupan. Singkatnya, apapun yang kamu lakukan pasti akan selalu ada dampaknya. Termasuk soal keuangan.

Singkatnya, kalau kamu pintar mengatur keuangan, dampaknya akan bagus untuk masa depan. Sebaliknya, jika keuanganmu berantakan, dampaknya pun akan berantakan.

Generasi milenial disebut-sebut sebagai generasi yang sulit mengatur keuangan. Bahkan tak sedikit dari mereka yang terlilit utang. Lantas apa sih yang menyebabkan generasi ini terlilit utang? Jawabannya tentu saja karena gaya hidup.

Ya, budaya konsumtif memang racun bagi milenial. Tengok saja survei dari Credit Karma tahun ini. Survei tersebut bilang, 40% milenial menghabiskan uang dan terlilit utang hanya untuk gaya hidup dan hubungan sosial.

Utang konsumtif seperti ini tentu membuat ruang keuangan mereka jadi tidak lega lagi. Tiap bulan harus menghadapi stres karena mendapatkan email tagihan.

Sebenarnya ada banyak solusi untuk mengatasinya. Perencanaan keuangan jadi salah satunya. Berikutnya adalah mengerem laju konsumtif. Namun mengubah kebiasaan tentu tidak bisa cepat. Akhirnya sebagian milenial mengatasinya dengan mencari penghasilan tambahan.

Ya, penghasilan tambahan bisa mengatasi persoalan ini. Malah hampir semua pakar personal finance personality menyarankannya. Salah satunya Bobby Hoyt.

Dikutip dari Forbes, salah satu pakar personal finance personality ini kerap mendorong generasi milenial agar bisa mendapatkan penghasilan sampingan. Bisa dengan menjual barang-barang tak terpakai di rumah, jualan sneakers secondhand, atau menjadi freelancer.

Menurutnya, setidaknya ada tiga manfaat penghasilan sampingan bagi milenial. Apa saja?

Persiapan Pengeluaran Darurat

Pengeluaran darurat atau tak terduga memang tidak bisa diprediksi. Bisa saja hewan peliharaan kamu tiba-tiba sakit dan harus dirawat di vet atau tiba-tiba motor/mobil kamu harus ke bengkel dan kudu mengeluarkan banyak uang. Meski sudah menyisihkan sedikit untuk itu, tetap saja besarannya bikin tabungan kempis.

Dari penghasilan sampingan, kamu bisa menyiapkan kalau ada pengeluaran darurat yang tak bisa diprediksi. Penghasilan sampingan itu bisa membuat napas perencanaan keuangan kita sedikit longgar.

Melunasi Paylater atau Kartu Kredit Lebih Cepat

Budaya konsumtif memang racun bagi milenial. Tengok saja survei dari Credit Karma tahun ini. Survei tersebut bilang, 40% milenial menghabiskan uang dan terlilit utang hanya untuk gaya hidup dan hubungan sosial.

Utang konsumtif seperti ini tentu membuat ruang keuanganmu jadi tidak lega lagi. Tiap bulan harus menghadapi stres karena mendapatkan email tagihan.

Penghasilan tambahan bisa mengatasi persoalan ini. Kamu bisa melunasi utang itu lebih cepat. Setelah lunas, tentu saja kamu harus mulai mengurangi kebiasaan konsumtif, apalagi yang menggunakan fasilitas utang. Kurangi kebiasaan jajan recehan agar keuanganmu tambah lega.

Bisa Berinvestasi Lebih Besar

Manfaat terbesar dari penghasilan tambahan adalah kamu bisa menginvestasikan dana lebih besar. Jika sebelum ada penghasilan tambahan kamu hanya menginvestasikan Rp500 ribu per bulan, dengan adanya tambahan penghasilan, kamu bisa menambah dana investasi dua atau tiga kali lebih besar.

Mari kita berhitung. Setelah punya penghasilan tambahan, kamu akan menginvestasikan danamu sebesar Rp1 juta per bulan melalui reksa dana di WELMA BCA. Dalam sepuluh tahun, investasi kamu sudah mencapai Rp165 juta. Jumlah sebesar itu sudah ditambah keuntungan 6% per tahun dari investasi kamu. Luar biasa kan?

Bagaimana? Tertarik? Kamu bisa memulai dengan memakai waktu luang kamu di akhir pekan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Selamat mencoba ya.