Hindari Kesalahan Ini Kala Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

Hindari Kesalahan Ini Kala Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak
Hindari Kesalahan Ini Kala Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

Bagi kamu yang sudah berkeluarga, pengeluaran apa yang terbesar? Selain cicilan rumah atau mobil, biasanya dana pensiun atau dana pendidikan anak mengikuti. Biaya pendidikan tiap tahun naik signifikan.

Dus, kamu harus menyiapkan dana ini dari jauh hari. Menyiapkan dana pendidikan anak bukan berarti harus mengorbankan kebutuhan lain seperti dana pensiun, aset aktif, dana modal usaha dan lain-lain.

Oleh karenanya, sebaiknya kamu menghindari kesalahan ini.

Tak Memulai Sejak Dini
Seperti dana pensiun, dana pendidikan termasuk tujuan finansial dengan jangka waktu tetap atau tidak dapat ditunda. Makin bertambah usia anak, makin berkurang waktu untuk mempersiapkan dana pendidikan.

Berinvestasi lebih awal akan memberi lebih banyak waktu agar uangmu bekerja dengan maksimal. Menabung di rekening biasa, deposito maupun instrumen investasi seperti reksa dana misalnya, akan memiliki imbal hasil yang berbeda.

Menggunakan Referensi Masa Lalu
Perencana keuangan dari QM Financial menyebut, banyak orangtua menggunakan pengalaman pribadi sebagai referensi dalam mendidik anak. Terkait tujuan finansial, referensi ini bisa merugikan karena ada faktor inflasi.

Inflasi secara sederhana adalah kenaikan harga barang dan jasa, termasuk biaya pendidikan. Di Indonesia, angka inflasi terbilang cukup tinggi. Bila kamu tidak membandingkannya dengan kondisi saat ini, kamu tidak mendapatkan data aktual.

Bila itu terjadi, seringkali kebutuhanmu akan lebih besar dibanding uang yang sudah kamu tabung atau investasikan. Dalam menyiapkan dana pendidikan, makin tinggi asumsi inflasi yang kamu gunakan, makin tinggi target dana yang harus kamu capai.

Walau terlihat berat, jika kamu berhasil mencapainya, kebutuhan dana pendidikan akan terpenuhi dengan baik.

Salah Membeli Produk
Tak dapat dipungkiri bahwa istilah pendidikan banyak dimasukkan ke dalam strategi pemasaran berbagai macam produk untuk meningkatkan daya jual. Hal ini berlaku juga untuk berbagai macam produk keuangan seperti asuransi dan tabungan.

Tak ada yang salah dengan produk tersebut selama kamu mengerti isinya dan membelinya karena sesuai kebutuhan. Namun, seringkali, praktiknya tidaklah demikian. Banyak orang langsung membeli produk semacam ini hanya karena ada kata pendidikan tanpa memahami skema produknya secara rinci.

Seringkali, mereka hanya mengandalkan bahwa produk tersebut mampu menjamin dana pendidikan yang mereka butuhkan akan terpenuhi dengan baik tanpa memonitor dan membandingkan hasil investasi atau tabungannya dengan kondisi aktual biaya yang dibutuhkan.

Dalam perencanaan keuangan yang baik, produk keuangan melayani tujuan finansial, bukan sebaliknya. Pahami kebutuhan dan kemampuan finansialmu, baru cari dan beli produk keuangan yang sesuai.

Jika kamu sudah terlanjur memiliki produk semacam ini, periksa isinya dan pastikan bahwa produk tersebut benar-benar dapat membantumu menyiapkan dana pendidikan dengan baik.

Utang
Utang bukanlah dosa, asal porsinya sesuai. Jika utang memang solusi terakhir, bijaklah memilih sumber utang dan pastikan kamu punya rencana matang membayar cicilan. Periksa tingkat bunga dan tenor agar tidak membebani anggaran rutin secara berlebihan.

Tidak Diskusi dengan Anak
Pada usia berapa kamu mulai melibatkan pendapat anak ketika memilih sekolah? Pada umumnya, diskusi dan keputusan mengenai hal ini baru akan diambil kemudian ketika anak sudah mendekati jenjang yang dimaksud.

Namun, hal ini sangat mempengaruhi besar dana pendidikan yang harus kamu siapkan. Biaya pendidikan seringkali bukan hanya biaya sekolah. Kamu harus memperhitungkan biaya hidup, apalagi bila harus tinggal di kota lain.

Tak ada salahnya memberi pengertian pada anak mengenai kemampuan finansialmu dalam membiayai pendidikan mereka. Apalagi, bila ada komponen utang di dalamnya.