Jangan Ciut Ketika Gaji Istri Lebih Besar

Jangan Ciut Ketika Gaji Istri Lebih Besar
Jangan Ciut Ketika Gaji Istri Lebih Besar

Saat ini, tak sedikit istri yang memilih untuk berkarir dan juga memiliki penghasilan lebih besar dari suami. Kebanyakan, hal ini akan membuat para suami menjadi minder dan tidak nyaman. Bahkan, tak jarang hal ini menjadi pemicu perceraian.

Namun, agar semuanya menjadi tidak canggung, sebaiknya ada kesepakatan bersama. Misalnya, jadikan istri sebagai manajer keuangan rumah tangga dan satukan penghasilan bersama. Biarkan istri yang mengontrol keuangan rumah tangga.

Dari sini, kamu bisa merumuskan pengeluaran bersama. Atur pula penghasilan berdasarkan kebutuhan keluarga, termasuk pengeluaran untuk masa depan yang bisa kamu alokasikan sebesar 30%.

Kemudian, 10% untuk pengeluaran sosial dan sisanya untuk keperluan saat ini, baik untuk rekreasi, membeli pakaian dan lain sebagainya.

Bila kamu menggunakan model pengelolaan keuangan terbuka semacam ini, perbedaan penghasilan tak akan lagi jadi masalah.

Pemicu munculnya masalah, menurut guru besar psikologi UI Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono adalah nilai-nilai tradisional yang kadang disakralkan.

Misalnya, dominasi pria dalam keluarga yang mana dalam nilai ini seorang pria harus jadi kepala keluarga. Hal semacam inilah yang membuat asal pemikiran bahwa pria harus lebih dari wanita dalam segala hal.

Kenyataannya, wanita kerap lebih baik (dalam berbagai hal) dibanding pasangan. Masalah semacam ini baru bisa diatasi bila pria bisa lebih memahami peran wanita yang kini sudah sangat berubah.

Fenomena perbedaan penghasilan istri lebih besar juga bukan hal baru. Hal ini sudah berlangsung sejak lama. Menurut hasil riset Pew Research Center pada 2013 di Amerika Serikat, mengungkap tren yang terjadi adalah makin banyak ibu yang menjadi tulang punggung keluarga.

Dari responden yang ada, sekitar 40% ibu menjadi tulang punggung rumah tangga. Sebelumnya, data tahun 1960, menunjukkan bahwa hanya 11% ibu menjadi tulang punggung keluarga.

Selain itu, tren ini juga kian subur karena adanya perkembangan budaya. Dibukanya kesempatan kerja untuk wanita membuat persaingan antara pria dan wanita dalam berkarir makin terbuka lebar.

Hasil riset Pew Research Center juga mengungkap, di Amerika, sekitar 47% lapangan kerja diisi wanita pada 2013. Jumlah pekerja wanita menikah juga mengalami peningkatan signifikan dibanding dari 1968 (37%).

Saat ini pula, komposisi jumlah pekerja pria dan wanita sudah hampir sama. Jenis pekerjaan juga memengaruhi perbedaan penghasilan suami dan istri.

Namun, semuanya kembali pada pandanganmu sendiri, hal terpenting adalah sikapmu terhadap perbedaan ini. Jadi, sikapilah dengan bijak dan terbuka agar tidak terjadi masalah dalam rumah tangga.