Mengukur Untung Rugi Berinvestasi Obligasi (2)

Mengukur Untung Rugi Berinvestasi Obligasi (2)
Mengukur Untung Rugi Berinvestasi Obligasi (2)

Setelah cukup paham pada apa dan bagaimana investasi obligasi, kamu harus paham cara kerja dan keuntungan investasi obligasi. Investasi obligasi masuk kategori investasi pendapatan tetap.

Sebab, negara atau perusahaan yang mengeluarkan obligasi tersebut sudah menetapkan kupon bunga untuk investor. Meski suku bunga tetap, obligasi jauh lebih menarik dibanding deposito.

Di awal penawaran obligasi, pihak-pihak yang tertarik membeli obligasi akan dicatat (book building). Di waktu yang ditentukan, akan ditentukan pula jumlah penawaran yang masuk atas seri obligasi tersebut.

Makin tinggi penawaran yang masuk (oversubscribed), biasanya akan berpengaruh pada bunga yang harus dibayarkan penerbit obligasi. Sederhananya, perusahaan A mengeluarkan obligasi Rp500 miliar berjangka lima tahun dengan bunga 8,5% per tahun.

Bila obligasi itu memiliki peringkat rating A+ dari Pefindo, investor bisa menilai obligasi itu menarik dan memesannya. Sampai batas waktu pemesanan, jumlah penawaran yang masuk dari investor mencapai Rp2,5 triliun.

Artinya, obligasi tersebut oversubscribed sebanyak lima kali dan banyak investor yang tertarik namun tidak mendapatkan obligasi itu. Mereka bisa membelinya di pasar sekunder (pasar negosiasi).

Sesuai hukum permintaan dan penawaran, harga obligasi naik di pasar sekunder. Siapa saja yang ingin mendapat seri obligasi dari perusahaan A tersebut, harus membayar lebih mahal. Meski begitu, bunga obligasi ini berbanding terbalik dengan harga.

Makin banyak dicari dan mahal harga obligasi, bunga obligasi sebenarnya terus turun. Mengapa? Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan investor pada perusahaan tersebut terus naik.

Dari ilustrasi tersebut, kamu bisa melihat bahwa harga dan bunga obligasi di pasar terus berubah. Hal ini berbeda dengan deposito yang menawarkan bunga tetap pada investor. Kalau kamu sudah sangat paham transaksi obligasi, kamu bisa mendapat selisih harga yang besar dari hal ini.

Namun, bila tidak, kamu masih mendapat kupon bunga dari penerbit obligasi. Besar kupon biasanya selalu lebih besar dibanding tingkat suku bunga deposito. Volatilitas di pasar obligasi ini biasanya berbanding terbalik dengan di pasar saham.

Bila pasar saham bergejolak dan tidak pasti, investor biasanya melarikan dananya ke obligasi. Demikian, pasar obligasi bergairah. Imbal hasil yang ditawarkan cukup menarik. Namun, bila pasar saham atraktif, imbal hasil yang dijanjikan pasar saham lebih menarik.

Di tahun lalu, ketika pasar keuangan bergejolak didorong beberapa kebijakan regulator, investasi di obligasi bisa menawarkan imbal hasil sampai lebih dari 10%. Lalu, apakah investasi di obligasi bisa merugi? Tentu saja.

Kerugian terbesar investasi di obligasi adalah kemungkinan gagal bayar (default). Hal ini pernah terjadi pada obligasi negara milik pemerintah Yunani. Karena itu, penting untuk melihat peringkat obligasi dari lembaga pemeringkat independen seperti Pefindo, Moodys, Standar& Poors dan lainnya.

Semakin baik peringkat, makin jauh dari prediksi gagal bayar.