Pahami Rasio Utang Agar Tak Terjerat Setan Kredit (1)

Ilustrasi
Ilustrasi

Utang bagaikan pisau bermata dua. Ia bermanfaat, tapi bisa melukai diri sendiri jika penggunanya ceroboh. Utang yang tak kunjung terselesaikan bisa membuat kehidupan seseorang terganggu, karena nyaris seluruh pendapatannya digunakan untuk membayar pinjaman dan pada akhirnya ia meminjam lagi.

Istilahnya, gali lubang tutup lubang. Atau, meminjam istilah dari film Warkop DKI, terjerat setan kredit.

Agar tidak terjerat setan kredit, ada baiknya kita mengetahui soal rasio utang. Debt ratio (rasio utang) merupakan perbandingan antara total pendapatan dengan total pengeluaran yang digunakan untuk membayar pinjaman.

Dengan mengetahui rasio utang, kamu bisa menilai diri, apakah sudah layak untuk mengambil utang baru. Rasio utang juga digunakan analisis dari pihak pemberi utang (kreditor) untuk menentukan layak atau tidaknya si peminjam (debitor) untuk dipinjami uang.

Misalnya, pendapatanmu Rp10 juta per bulan. Tiap bulan, ada biaya sebesar Rp3 juta yang wajib kamu setor. Artinya, rasio utang kamu mencapai 30 persen.

Penafsiran para ahli berbeda-beda, tapi umumnya 30 persen adalah rasio utang yang paling maksimal. Jika rasio utangmu mencapai angka ini, sebisa mungkin jangan meminjam lagi.

Dengan rasio utang 30 persen, 70 persen sisa pendapatan dapat dialokasikan untuk pengeluaran lain, dari memenuhi kebutuhan pokok, merencanakan keamanan finansial (berinvestasi, menabung, membuat dana darurat, dan dana pensiun), serta untuk kesenangan dan hiburan.

Jika rasio utangmu di atas itu, ada kemungkinan alokasi lainnya akan terabaikan. Mungkin kelihatannya sehat meski pas-pasan, tapi ketika ada sebuah kebutuhan mendesak atau darurat, besar kemungkinan peminjam akan mengalokasikan dana yang sebenarnya ditujukan untuk bayar utang. Inilah awal terjadinya kredit macet.

Perlu dipahami bahwa batas keamanan rasio utang 30 persen itu tidak mutlak. Sebagian orang mungkin memiliki rasio di atas itu, tapi bisa hidup aman-aman saja.

Mungkin ia punya usaha yang membutuhkan pinjaman dalam jumlah besar, sehingga roda keuangannya bisa terus berputar. Atau, ia punya pendapatan relatif besar, sehingga masih bisa hidup nyaman dengan sisa pendapatan setelah dikurangi utang.

Intinya adalah pengelolaan pendapatan yang baik, benar, dan disiplin.