Pilih Instrumen Investasi Ini Saat Pasar Bergejolak

Reksadana Terproteksi
Reksadana Terproteksi

Sejak awal 2018, pasar keuangan Tanah Air masih tertekan. Meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan tiga kali suku bunga acuan (BI 7 days repo) menjadi 5,25%, situasi di pasar keuangan diprediksi akan terus bergejolak hingga akhir tahun.

Menurut data Infovesta yang dikutip Kontan, sejak awal tahun, kinerja reksa dana saham menurun 4,24%, reksa dana campuran 2,71%, pendapatan tetap turun 3,32%, hanya reksa dana pasar uang yang masih mencatat kenaikan positif 2,28%.

Sebagai investor yang memiliki reksa dana atau saham, tentu kondisi ini bisa membuatmu panik. Sebenarnya, dengan strategi yang tepat dalam meletakkan dana, semuanya bisa tetap terkendali.

Dalam kondisi fluktuasi, 10 aset manajemen melihat reksa dana terproteksi menjadi instrumen menarik. Dari sisi imbal hasil, menurut Managing Director, Head Sales & Marketing Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Markam Halim, imbal hasil reksa dana terproteksi kalah dibanding reksa dana pendapatan tetap.

Namun, reksa dana terproteksi unggul saat pasar sedang bergejolak dimana pasar obligasi goyah dan kinerja reksa dana pendapatan tetap tertekan. Tren kenaikan suku bunga acuan juga semakin menambah ketertarikan investor pada reksa dana terproteksi karena bisa menawarkan imbal hasil di atas deposito.

“Produk ini menjadi solusi bagi pemodal kecil yang ingin berinvestasi di pasar modal dengan horizon investasi jangka pendek hingga menengah,” sebut Head of Alternative Investment Insight Investments Indra Gunawan ditulis Kontan.

Sebagian besar reksa dana terproteksi memiliki aset dasar berupa obligasi korporasi yang ditahan hingga jatuh tempo. Bila kamu ingin masuk, kinerja reksa dana ini bergantung pada pemilihan obligasi oleh manajer investasi.

Jika obligasi yang dipilih memberi kupon tinggi dan memiliki risiko terukur, kinerja reksa dana berpotensi positif.

“Investor harus mengetahui seperti apa prospek perusahaan sehingga bisa memrediksi apakah dalam 3-5 tahun ke depan perusahaan bisa membayar kewajibannya,” pungkas Markam.