UGD Aja 24 Jam, Dana Darurat Juga Dong

Ilustrasi
Ilustrasi

Tahu enggak kenapa layanan Unit Gawat Darurat dibuka 24 jam? Soalnya enggak ada yang tahu kapan kita kena musibah seperti terbawa angin topan, ketiban barbel anak gym, tersiram minyak panas tukang nasi goreng, dan lain-lain.

Sama persis sama duitnya atau yang biasa disebut dana darurat. Dana ini harusnya juga selalu stand by alias siap sedia 24 jam dong. Ya mirip “bucin” (budak cinta) yang rela nunggu gebetannya putus deh.

Ingat, dana darurat dalam pengelolaan keuangan, baik untuk kamu yang jomblo maupun yang sudah berumah tangga, merupakan aspek yang sangat penting. Terlebih dalam situasi dan kondisi pandemi COVID-19 seperti sekarang.

Ingat kata Ibu Menteri Sri Mulyani tempo hari. Beliau mengatakan kalau pertumbuhan ekonomi di 2020 memang lagi lesu. Malah sempat menyentuh 2,3 persen dan jadi yang terendah sejak resesi moneter 1998 dulu.

Gegara itu, enggak sedikit perusahaan-perusahaan yang terpaksa membuat kebijakan efisiensi buat karyawannya. Ada yang enggak dapat THR, ada yang dipotong setengah gaji, sampai ada yang kena PHK. Enggak cuma sektor swasta, para abdi negara alias PNS pun kena dampak hilangnya gaji ke-13 dan THR untuk golongan tertentu.

Keadaan kayak begini enggak cuma di Indonesia tercinta, lho. Di Amerika sana, seperti dilansir BBC, kasus PHK-nya mencapai 160-an juta lebih dalam kurun waktu kurang dari sebulan.

Nah, yang kayak gini nih yang masuk kategori musibah. Situasi seperti ini pula yang membuat kita membutuhkan dana darurat. Pertanyaannya, cukupkah dana darurat kita sampai setidaknya mendapat penghasilan baru atau perusahaan tempat kita bekerja pulih kembali?

Yuk cuci muka biar fresh. Kalau perlu guyur kepala dan renungkan pentingnya melakukan langkah-langkah perencanaan keuangan. Mumpung uangnya masih ada. Soalnya bagian tersulit dari mengatur uang adalah saat uangnya enggak ada. Ya, kan?

Perencana Keuangan Budi Rahardjo mengatakan hal pertama yang bisa dan perlu dilakukan adalah evaluasi kondisi keuangan. Cek keuangan pribadimu lagi.

Data semua. Berapa tabungan yang ada; berapa dana darurat yang dimiliki. Evaluasi apakah bakal ada perubahan pemasukan dan pengeluaran, dalam kurun waktu dekat ini. Yang terpenting: analisa sampai kapan kamu bisa bertahan?

Itulah kenapa banyak perencana keuangan mengimbau kita punya dana darurat setara minimal 3 atau 6 kali gaji. Malah ada yang menyarankan satu tahun gaji.

Untuk kamu yang masih jomblo, boleh 3 kali gaji. Untuk yang sudah nikah minimal 6 kali gaji. Nah, untuk yang sudah ada anak, sebisa mungkin lebih dari 6 kali gaji.

Saat evaluasi, pisahkan tuh yang namanya tagihan, cicilan, kewajiban pajak, dan semacamnya. Kelompokkan semua dalam tabel pengeluaran. Pertimbangkan kebutuhan kesehatan karena sekarang kamu sangat membutuhkannya.

Lihat aset kamu. Mana yang bersifat layak jual saat terdesak nanti. Hitung semua selisihnya.

Pangkas Pengeluaran yang Enggak Perlu-perlu Amat

Namun di antara semua yang kamu lakukan, memangkas pengeluaran yang tidak perlu jadi hal yang harus diprioritaskan. Coret dulu semua daftar keinginanmu yang bisa ditunda.

Misalnya seperti tur kuliner Jepang, wisata kecantikan Korea, eksplorasi bangunan kuno di Eropa, belanja ke Singapura, jastip ke Paris, nonton bola ke Inggris, nonton balapan di Sepang, nonton tenis di Australia, atau bahkan nonton basket di AS, tunda semua. Lagian semua juga lagi libur, cuy.

Sebaliknya, alih-alih menutup pengeluaran, cari penghasilan tambahan. Tanya temanmu, apa yang bisa kamu kerjakan. Upayakan bisa freelance. Kamu bisa juga memanfaatkan bakat kamu di bidang desain grafis, copywriter, lakukan semua yang bisa menghasilkan.

Selanjutnya, mumpung masih ada uang, upayakan tetap menabung dana darurat. Sisihkan di awal, jangan menabung dari sisa belanja.

Simpan dana darurat di instrumen yang likuid atau mudah dicairkan. Misalnya seperti rekening baru, deposito jangka pendek, atau tabungan berencana. Ini penting karena memang kondisinya masih belum kondusif.

Cobalah program tabungan berencana seperti Tahapan Berjangka BCA. Kenapa di BCA?

Soalnya setoran awalnya ringan banget, mulai Rp500 ribu per bulan. Sudah begitu suku bunganya juga di atas tabungan reguler.

Malahan saat kamu punya uang lebih, bebas tambah dana sewaktu-waktu di luar setoran bulanan.

Buat cek saldo juga tinggal manfaatkan fasilitas e-statement via KlikBCA. Enaknya lagi, semua itu bisa kamu lakukan #diRumahAja.

Klik di sini untuk lihat cara buka Tahapan Berjangka BCA di KlikBCA.

Gampang, kan? Yang penting, pastikan dulu sudah aktif fitur finansialnya ya.

Aktivasi KlikBCA kamu di sini.