Agar Bisnis Selamat, Pengusaha Perlu Proaktif Hadapi Disrupsi Digital

bisnis
bisnis

Saat ini adalah era disrupsi. Banyak perusahaan rintisan ‘mengusik’ pasar dengan cara yang tidak terduga. Karena hal ini, hasil riset Global Center for Digital Business Transformation mengungkap, 4 dari 10 pemain pasar teratas terancam tergusur disrupsi digital dalam lima tahun mendatang.

Salah satu cara untuk bertahan dalam kondisi semacam ini, buat kamu yang punya bisnis yang sudah stabil, sebaiknya mulailah proaktif pada transformasi digital mengikuti 25% perusahaan yang ikut dalam riset tersebut dan berhasil bertahan.

“Kemunculan inovasi disruptif, khususnya di ranah digital, tidak bisa dihindari. Industri media, pemasaran, dan komunikasi menyadari perkembangan ini juga mengubah aturan dan praktik bisnis konvensional,” kata Ketua Asia Pacific Media Forum (APMF) 2018 Andi Sadha.

Mengutip Marketeers, pembahasan ini sejalan dengan salah satu prioritas Presiden Joko Widodo, yaitu membangun ekosistem kewirausahaan yang memungkinkan industri bergerak lincah memanfaatkan potensi model baru ekonomi digital.

“Jika bisnis stagnan dengan model lama, kemungkinan besar bisnis akan segera usang,” lanjut Andi. Pendiri & Chief Trend Curator The Non-Obvious Company Rohit Bhargava menyambung, pelaku pemasaran dan periklanan, serta penggagas tren digital perlu memahami isu transformasi bisnis dalam menyambut revolusi industri.

Sebab, saat ini bisnis menghadapi tiga tantangan utama seiring perkembangan teknologi. “Pertama, (tantangan) krisis kepercayaan dimana konsumen sulit percaya materi pemasaran. Kedua, tuntutan konsumen pada akses dan ‘keinstanan’ makin ekstrem. Ketiga, batas industri makin melebur dan membuat konsumen bingung atau kewalahan,” paparnya.

Rohit melanjutkan, kebanyakan bisnis tak siap menghadapi disrupsi. “(Agar transformasi relevan) kuncinya mengkurasi tren yang ada untuk menemukan pola yang mungkin dilewatkan kebanyakan orang,” kata dia.

Presiden The Ogilvy Center for Behavioral Science Christopher Graves menambahkan, media sosial kini bisa membantu melakukan segmentasi konsumen secara lebih akurat dan personal dari unggahan, profil, dan pola penggunaan media sosial yang menghasilkan lima elemen.

“Elemen tersebut adalah OCEAN. Openness (keterbukaan), Conscientiousness (kehati-hatian), Extraversion (ekstroversi), Agreeableness (kemudahan untuk bersepakat/kompromi), dan Neuroticism (tendensi neurosis),” ungkapnya.

Jadi, sebagai pengusaha, kamu bisa memanfaatkan OCEAN untuk menyusun strategi yang tepat dan relevan pada bidikan pasarmu.