Bukti Masyarakat Mulai Beralih ke Digital Branch

Ilustrasi milenial lebih menyukai ber-banking lewat HP
Ilustrasi milenial lebih menyukai ber-banking lewat HP

Beberapa tahun lalu, istilah digital branch mungkin belum terlalu familiar di telinga masyarakat. Namun dengan adanya pandemi, kehadirannya justru menjadi solusi.

Dilansir dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pengertian sederhana dari digital branch itu merupakan sarana atau pelayanan bank secara digital alias self service. Jadi mulai dari pembukaan rekening hingga segala transaksi, semua bisa dilakukan menggunakan teknologi.

Nah, berdasarkan hasil riset terbaru yang dilakukan Inventure, 68,5% masyarakat itu setuju kalau semua kebutuhan transaksi dapat dilakukan lewat HP. Mayoritas dari mereka bahkan mengaku akan berpikir ulang untuk ke kantor cabang di masa pandemi.

Jadi singkatnya, kalau bisa dilakukan dari rumah, maka mereka akan memilih menggunakan layanan digital. Terlebih bila ada layanan yang memungkinkan mereka tidak bersentuhan dengan apapun.

Managing Partner Inventure, Yuswohady, mengamini hal tersebut. Menurutnya, sudah sepatutnya bank-bank di Indonesia meningkatkan layanan digitalnya. Kalaupun masih ada kantor cabang, layanan di dalamnya juga harus berubah.

"Ke depan kantor cabang harus berubah mengikuti pergeseran preferensi konsumen ini. Kantor cabang akan ditata lebih cozy dan diarahkan untuk melayani high-value customers dengan layanan yang highly-customized," kata pria yang biasa disapa Siwo ini.

Sejalan dengan itu, Managing Director PT Bank Central Asia Tbk, Haryanto Budiman, mengatakan peningkatan layanan digital BCA sebenarnya sudah dilakukan jauh sebelum pandemi datang. Malahan bank swasta terbaik di Indonesia ini kerap menjadi pionir dalam hal inovasi digitalisasi di setiap layanan baru perbankan.

Jadi pantas saja data mengatakan 97 persen konsumennya sudah mengandalkan transaksi nontunai atau digital. Sedangkan hanya tinggal 3 persen saja nasabahnya yang datang ke cabang.

Meski demikian, Haryanto menolak bila ke depannya kantor cabang sudah tidak diperlukan lagi. “Kantor cabang akan tetap dibutuhkan oleh nasabah terutama untuk transaksi dalam jumlah besar. Namun bentuk kantor cabang akan berubah. Tidak lagi seperti kantor cabang saat ini melainkan bisa menjadi lebih kecil, ringkas dan efisien,” katanya saat jadi salah satu pembicara di Indonesia Industry Outlook 2021 Conference.

Aplikasi Memudahkan Segalanya

Masih menurut Haryanto, salah satu penyebab nasabah tidak melakukan transaksi di kantor cabang adalah karena adanya aplikasi dan layanan digital yang diluncurkan BCA, misalnya BCA mobile.

Dengan BCA mobile, kamu bisa bayar-bayar tagihan seperti listrik, air, pulsa, kartu kredit, cicilan kendaraan, dan lain-lain, tanpa perlu ke minimarket atau mesin ATM. Kamu juga dapat bayar BPJS, asuransi, internet, dan TV kabel dengan aplikasi ini.

Mau top up saldo e-wallet seperti Sakuku, Gopay, OVO, ShoopePay, Dana, dan belasan lainnya juga bisa kok. Termasuk top up Kartu Flazz.

Untuk yang belum menjadi nasabah BCA, kamu bahkan bisa buka rekening baru dengan BCA mobile. Selain itu, aplikasi ini juga memungkinkan kamu mengambil uang tunai di mesin ATM BCA, meski kartu ATM kamu ketinggalan.

Hebatnya lagi, lewat BCA mobile kita juga bisa mengatur limit transaksi Kartu Debit BCA Mastercard, sehingga bisa menjaga cashflow untuk tetap hemat. Kamu juga dapat memblokir kartu debit, memblokir sementara layanan OneKlik di merchant, hingga membuka Tahapan Berjangka BCA dengan aplikasi ini.

Sebenarnya masih banyak fitur-fitur lainnya yang bisa kamu manfaatkan. Klik di sini untuk lihat fitur apa saja yang ada di BCA mobile. Praktis, kan?

Kemudahan yang diberikan BCA ini menjadi bukti bahwa perbankan nasional sudah lebih dulu bersiap menghadapi masalah seperti pandemi. Hal ini pula yang lantas menunjukkan bahwa bisnis perbankan ke depannya masih menjanjikan.

Namun sekali lagi, pandemi membuat perbankan juga harus beradaptasi, terutama dalam memberikan layanan di kantor cabang mereka. Sebab masyarakat kini kian mengutamakan kesehatan, kebersihan, dan keamanan saat keluar rumah.

Masih ada banyak hasil survei yang menunjukkan perubahan perilaku konsumen terhadap dunia digital banking. Hasil lengkapnya bisa kamu dapatkan dalam sebuah e-book berjudul "Indonesia Industry Outlook 2021:Industry Megashifts Post COVID-19" yang diluncurkan dalam acara Indonesia Industry Outlook 2021 Conference.

Acara ini sendiri sudah berlangsung dari 4 November kemarin dan akan berakhir pada Jumat, 5 November 2020. Kamu masih bisa mengikutinya dengan mengunjungi Indonesia Industry Outlook 2021 Conference.

Yuk tunggu apa lagi. Ada 40 pembicara CEO/BOD dari 40 industri utama di Indonesia seperti: banking, telekomunikasi, properti, FMCG, retail, hingga UKM yang sudah menantimu. Mereka akan berbagi soal strategi bagaimana cara bangkit kembali setelah pandemi.