Butuh Karyawan Milenial? Ini Trik Memikat Mereka

Benefit Kerja
Benefit Kerja

Untuk kamu yang sedang merintis usaha, apalagi di bidang kreatif, memiliki karyawan dari generasi milenial tentu jadi nilai tambah. Mereka bisa membantu menembus pasar anak muda. Sayangnya, mencari karyawan milenial yang sesuai tidaklah mudah.

Generasi muda ini punya banyak pertimbangan. Firma pengembangan karier Glassdoor dalam Employment Confidance Survey menyebutkan, 60% generasi milenial justru tidak mengutamakan gaji dan benefit sebagai pertimbangan memilih tempat kerja.

Sebanyak 80% responden ternyata lebih memilih tambahan benefit dibanding sekadar kenaikan gaji. Google, Twitter dan Facebook berhasil menjadi tempat terbaik untuk bekerja karena tidak hanya menawarkan gaji tinggi.

Perusahaan itu menawarkan lebih, seperti dilaporkan Harvard Business Review. Jadi, kamu punya bayangan bagaimana memikat anak muda bila memang butuh karyawan muda.

Permainan

"Bagi milenial, tunjangan kesehatan, bonus tahunan dan bonus lain tidaklah cukup," kata laporan tersebut. Kamu bisa menerapkan sistem poin. Poin ini nantinya bisa ditukarkan dengan kopi di kafe, airlines miles dan lainnya.

Besar poin tergantung prestasi. Kamu juga bisa mengembangkan sistem ini dengan beberapa keuntungan baru, seperti diskon biaya transportasi, bonus cuti ataulainnya.

Biaya Teknologi

Perusahaan tentu akan membeli alat kantor untuk menunjang kinerja. Karyawan milenial tidak menganggap barang-barang kantor ini sebagai milik pribadi. Mereka butuh sesuatu yang bisa membuat mereka tetap produktif.

Misalnya, analis pergerakan saham butuh beberapa unit layar komputer dengan koneksi internet super stabil untuk bisa bekerja maksimal.

"Kamu bisa memberi pilihan peralatan. Langkah ini tak saja membuat mereka lebih produktif, juga memberi pemahaman bahwa kamu berinvestasi pada kualitas SDM," tulis praktisi SDM Adam Robinson di Inc.Asean.

Kesehatan dan Kebugaran

Milenial juga tertarik pada perusahaan yang memperhatikan urusan kesehatan. Beberapa perusahaan memberi tunjangan keanggotaan kebugaran atau memberi makanan sehat dan bergizi.

Seperti anggaran teknologi, hal ini juga bermanfaat dalam pengembangan produktivitas karyawan. Bila karyawan sehat, mereka akan lebih semangat, bergairah dan produktif bekerja.

Hari Libur Fleksibel

Sebagian perusahaan memiliki hari libur yang standar, seperti perayaan hari besar nasional, hari raya agama, tahun baru, hari kemerdekaan dan hari besar lainnya. Padahal, tak semua karyawan menikmati hari libur itu.

Ketika akhir tahun misalnya, tiket pesawat dan hotel menjadi mahal sehingga mereka malah ragu untuk berlibur. Mereka sebenarnya lebih senang bila dapat libur di hari ulang tahunnya, misalnya.

"Memberi lebih banyak fleksibilitas dalam waktu, tempat dan ruang kerja membuat mereka lebih produktif. Termasuk dalam hal liburan. Mereka akan lebih bijak dalam mengambil keputusan, kreatif dan tentu produktif," pungkas Robinson.