Hadapi Disrupsi Bisnis dengan Langkah yang Taktis

Hadapi Disrupsi Bisnis dengan Langkah yang Taktis
Hadapi Disrupsi Bisnis dengan Langkah yang Taktis

Di era disrupsi seperti saat ini, sektor bisnis yang tak siap akan tertinggal. Pakar manajemen Rhenald Kasali pun mengatakan, untuk merespons kondisi semacam ini, perlu ada perubahan.

Buat kamu yang juga memiliki bisnis ritel, kamu bisa belajar dari manuver PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) dalam menghadapi kondisi tersebut. Bisnis ritel merupakan salah satu bisnis yang terkena efek disrupsi.

Tahun ini, maraknya e-dagang membuat banyak gerai ritel harus gulung tikar. Direktur Pemasaran Alfamart Ryan Alfons Kaloh pun mengungkap caranya menghadapi disrupsi ini.

Ia bilang, mulai 2018, pihaknya akan mulai melakukan kustomisasi toko yang ada. Kustomisasi ini dilakukan dari sisi produk yang dijual. Demikian, katanya, produk yang dijual bisa lebih menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen di daerah masing-masing.

"(Barang-barang) disesuaikan dengan konsumen. Kalau di Jakarta, mungkin susu harga Rp200 ribu bisa laku, tapi di daerah lain mungkin tidak bisa dipaksakan. Karena bisa rugi. Dari pemasok mengalami retur, konsumen rugi, dan di kami jadi beban stok," kata Ryan seperti dikutip Bisnis Indonesia.

Selain menjaga relevansi produk untuk konsumen dan untuk mengurangi beban inventori barang, Ryan mengatakan, langkah Alfamart ini bermanfaat untuk mengurangi beban stok barang. Sebab, di 2018, sektor ritel diprediksi masih akan lesu.

Perseroan, kata Ryan, akan menggunakan basis data transaksi konsumen yang sudah dikumpulkan. Saat ini, ungkap Ryan, Alfamart punya 8,5 juta konsumen dengan empat juta transaksi per hari. "Sekitar 20%-22% transaksi datang dari anggota. Namun, jumlah anggota kami masih jauh di bawah keanggotaan ritel di negara-negara lain," jelas Ryan.

Di Brasil, jumlah keanggotaan ritel mencapai 100 juta orang. Di Australia, hampir 25% populasi penduduk. Meski mengaku siap, Ryan mengaku belum mengetahui persis kapan pastinya rencana tersebut dilakukan.

Penerapan rencana tersebut akan dilakukan secara bertahap. Gerai Alfamart sendiri saat ini berjumlah sekitar 13.168 di seluruh Indonesia. Karenanya, langkah ini tak bisa dilakukan sekaligus. Selain melakukan kustomisasi produk, Alfamart juga akan melanjutkan pengembangan dan penetrasi digital.

Saat ini, Alfamart memiliki platform belanja daring sendiri bernama Alfa Gift.