Ini Cara Blue Bird Jawab Tantangan Disrupsi Digital

blue bird
blue bird

Ketika Grab dan Gojek muncul, sebagian besar orang menyebut bisnis taksi konvensional akan mati karena hilang ditelan disrupsi digital. Pesatnya kemajuan teknologi berbasis aplikasi serta ekonomi berbagi (economic sharing) menjadi penyebabnya. Apakah selalu begitu?

Presiden Direktur Blue Bird Group Indonesia Noni Purnomo menyebut, selama ini usahanya selalu melakukan disrupsi. Karena itu, usahanya bertahan sampai 46 tahun. Sekarang, katanya, Blue Bird tidak hanya berbisnis taksi, juga terintegrasi jasa logistik, alat berat (heavy equipment), transportasi untuk industri khusus, properti dan lainnya.

"Sekarang, kita bicara target dan tujuan di jangka pendek itu bukan hanya sebulan atau setahun lagi. Namun, besok. Satu hari ke depan," sebut Noni di Indonesia Knowledge Forum 2018.

Sejak 2013, katanya, Blue Bird sebenarnya sudah mengembangkan aplikasi untuk memesan armada. Melalui aplikasi ini, konsumen tak harus memberhentikan taksi di jalan. Sejak beberapa tahun lalu, Noni juga menyebut bahwa Blue Bird sudah mengembangkan sistem pembayaran nontunai (cashless) melalui credit voucher.

"Tapi apa yang kita pelajari? Disrupsi dan inovasi juga ternyata ada momentumnya. Waktunya harus pas. Kalau terlalu cepat seperti apa yang kita lakukan pada aplikasi misalnya, masyarakat kurang bisa menerima," jelas lulusan Teknik Industri itu.

Disrupsi terbesar yang dilakukan Blue Bird sebagai pemimpin pasar, lanjutnya, adalah disrupsi harga. Hal ini yang membawa Blue Bird ke dalam transformasi bisnis secara besar-besaran. Noni mewarisi Blue Bird dari keluarga yang selama ini membesarkan Blue Bird.

Sebagai penerus perusahaan, kunci sukses membawa transformasi bisnis adalah memiliki nilai. Dia juga menyarankan untuk yakin dan memiliki ketetapan hati.

"Karena disrupsi misalnya, kita jadi sering panik sendiri. Bagaimana kalau usaha ini bangkrut di tangan kita? Kekhawatiran ini membuat kita jadi tidak mengenali lagi layanan apa yang menjadi keunggulan di mata konsumen. Begitu juga sebaliknya, layanan apa yang harus ditingkatkan untuk memperbesar pasar?," katanya.

Kiat Hadapi Transformasi Digital

Hal pertama, kata Noni, sadari bahwa tidak semua orang menyukai perubahan besar dalam hidup maupun kebiasaan. Kepada mitra pengemudinya, Noni juga biasa memberi insentif dan tidak semua insentif adalah tentang uang.

"Paling penting adalah kita tetap konsisten. Kita terus memberi edukasi dan sosialisasi, mengapa kita melakukan perubahan tersebut? Usahakan bahwa perubahan tersebut berpengaruh atau memiliki dampak kepada mereka," pungkasnya.