Jurus Atasi Konsumen yang Krisis Kepercayaan Pada Bisnis

Kepercayaan Bisnis
Kepercayaan Bisnis

Internet melahirkan era post-truth. Informasi terus berdatangan sehingga hampir tidak ada ruang untuk mengolah kebenaran. Di era ini, kemampuan manusia memilah mana yang benar dan bisa pun menurun. Dampaknya, bisa jadi mereka ragu dengan bisnismu.

Hal semacam ini tentu bisa memicu krisis kepercayaan dari konsumen. Padahal, tanpa kepercayaan (trust) dari konsumen, produk atau layanan akan kalah saing di pasar. Dalam hasil survei Edelmen Trust Barometer, tren ini sudah marak di Amerika Serikat.

Di negeri paman Sam itu, tingkat kepercayaan konsumen turun ke skala terendah dalam sejarah. Penyebab utamanya adalah maraknya hoaks (kabar palsu) yang sering menyebar melalui media sosial.

"Satu-satunya kepercayaan yang tersisa bersifat sangat lokal dan khusus. Kita dipaksa untuk tidak percaya pada media dan pemerintah. Hanya keluarga atau teman dekat saja yang masih bisa dipercaya," kata ahli manajemen David Brooks di The New York Times.

Lalu, apa yang harus dilakukan untuk menjaga harapan konsumen?

"Menjaga kepercayaan dan kualitas sumber daya manusia adalah hal penting. Kepercayaan karyawan menjadi hal penting untuk menguatkan sekaligus menjaga harapan konsumen pada kualitas merek yang kamu miliki," sebut Chief Marketing Officer Dynamic Signal Joelle Kaufman dalam tulisannya di Entrepeneur.

Tim kerja yang saling percaya, kata Joelle, akan membuat ikatan yang kuat. Demikian, mereka akan saling memotivasi satu sama lain untuk bekerja maksimal. "Mereka tak akan saling membesar-besarkan kesalahan rekan kerja, justru saling mengingatkan," lanjut dia.

Bila ikatan dalam perusahaan kuat, Joelle yakin, perusahaan akan mudah menghadapi krisis apa pun. Bisnis akan memiliki imunitas terhadap krisis. Secara tidak langsung, konsumen juga tidak akan percaya kabar palsu yang datang atau menerpa bisnis.

Sepakat?

Gina Maftuhah

Penulis SmartMoney