Katie Bouman, Perempuan Muda Jenius di Balik Foto ''Lubang Hitam''

Ilustrasi lubang hitam
Ilustrasi lubang hitam

Senyumnya ceria. Di umur yang relatif belia, 29, untuk ukuran seorang ilmuwan, Katherine Louise “Katie” Bouman menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah peradaban manusia untuk memahami salah satu misteri terbesar di alam semesta.

Dilansir dari The Guardian, algoritma bikinan Bouman membantu ilmuwan untuk menampilkan visualisasi dari sebuah lubang hitam supermasif, yang berada di galaksi Messier 87 (M87), berjarak 55 juta tahun cahaya dari Bumi. Ini kali pertama manusia bisa mendapat gambar lubang hitam.

Enam tahun lalu, ia sudah terlibat dalam proyek ini bersama 200 peneliti lain. Saat itu, Bouman adalah mahasiswi doktoral bidang ilmu komputer dan kecerdasan artifisial di Massachusetts Institute of Technology (MIT), salah satu kampus teknologi terunggul di dunia.

Saat foto lubang hitam M87 beredar, foto Bouman ikutan viral. Reaksi Bouman saat citra lubang hitam muncul di layar komputernya diedarkan warganet.

Banyak yang menyayangkan bahwa peran Bouman dilupakan oleh media arus utama -- seperti yang kerap terjadi pada ilmuwan wanita lain. Meski latar belakang pendidikannya ilmu komputer, bukan astrofisika, peran Bouman dalam proyek ini sangat besar.

Data berupa gelombang radio untuk menampilkan image lubang hitam M87 diambil oleh Event Horizon Telescope (EHT), delapan teleskop radio yang tersebar di seluruh dunia.

Tugas Bouman dan timnya adalah membuat algoritma yang dibutuhkan agar komputer mampu menyusun data-data radio yang diambil delapan teleskop itu untuk menjadi sebuah gambar utuh.

Begitu algoritma sudah jadi, Bouman bekerjasama dengan lusinan periset EHT untuk mengetes bagaimana pencitraan lubang hitam bisa didesain. Pada Juni, ketika seluruh data teleskop sudah ada, Bouman dan sebuah tim kecil baru bisa menerapkan algoritma mereka pada data.

Untuk keberhasilan ini, Bouman memuji kolaborasi timnya. “Tak ada satu algoritma atau satu orang yang membuat pencitraan ini mungkin,” tulis Bouman.

“Dibutuhkan satu tim ilmuwan dengan talenta luar biasa dari seluruh dunia dan bertahun-tahun kerja keras untuk mengembangkan instrumen, pemrosesan data, metode pencitraan, dan teknik analisis yang dibutuhkan untuk mencapai apa yang tadinya tak mungkin ini.”

Dalam presentasinya di acara TED 2016, Bouman pernah berkata, “Saya ingin menyemangati kalian semua untuk menolong menembus batasan-batasan ilmiah, meskipun itu kelihatannya sangat misterius, semisterius sebuah lubang hitam.”

Kini, Bouman menjalani program post-doctoral di MIT dan akan mengambil tugas sebagai asisten profesor di California Institute of Technology, tapi ia masih akan berkolaborasi dengan EHT untuk proyek lain sehubungan pencitraan lubang hitam.