Membuat Produk Sukses dengan Filosofi Unicorn

filosofi unicorn
filosofi unicorn

Ketika mendengar kata unicorn, hal yang muncul di kepalamu? Kebanyakan orang tentu akan menjawab bahwa unicorn hanyalah mitos atau makhluk khayalan. Namun, sebenarnya kamu bisa mengambil pelajaran dari makhluk mistis tersebut dalam menciptakan produk.

Menurut CEO & Co-Founder UX Indonesia Dr. Eunice Sari, unicorn yang dimaksud dalam hal ini adalah bagaimana mencari keunikan dari produk itu sendiri. “Jadi, pelaku bisnis perlu membuka ‘kacamata kuda’ mereka dan melihat produk serupa dari pesaing. Kemudian lakukan analisis untuk menentukan hal unik apa yang bisa ditampilkan oleh produknya,” terangnya di Indonesia Knowledge Forum VII 2018.

Untuk melakukannya, Eunice memberikan kiat yang bisa diterapkan dari filosofi unicorn tersebut.

Profitability

“Sehebat-hebatnya produk, kalau tidak bisa memberikan keuntungan, itu sama juga bohong. Karena pada akhirnya ini soal uang. Jadi, di awal, harus sudah memikirkan cara membuat konversi yang baik,” kata dia.

Credibility

Perusahaan boleh hebat, namun kalau tidak bisa dipercaya sama juga bohong. “Jadi, pastikan perusahaan jujur dan kredibel. Transparan,” sarannya.

Agility

Di era disrupsi teknologi. Respons harus dilakukan dengan cepat. Harus bisa berpikir dengan cepat. “Time boxing (bekerja dengan waktu ketat) adalah emas. Banyak perusahaan bisa maju berkat proses agile ini. Misalnya, membiasakan memetakan ide desain dalam 8 menit. Amazon, Google dan lainnya sudah membuktikannya,” katanya.

Loyalty

Integritas pun harus dijaga. Kamu harus bisa bekerja karena integritas bukan karena pekerjaan. Inilah yang akan membantu kamu membangun loyalitas.

Desirability

Mata selalu tertarik pada hal indah. Secara psikologi ini wajar. Terkait produk, ini cara membuat produk agar diinginkan orang.

Word of Mouth

Orang Indonesia itu aneh. Sebelum membeli produk atau memakai jasa, mereka lebih memilih mencari rekomendasi terlebih dahulu dari orang lain. Sementara di luar tidak seperti itu. Karenanya, buatlah produk yang bisa viral. Caranya, lakukan user research untuk mengetahui produk yang berpotensi viral.

User Experience (UX)

UX itu soal orang. Dalam bisnis, posisi konsumen tetap harus di posisi paling atas. UX pula nantinya akan menjadi nilai unik satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Untuk menentukan ini, bisa dengan melihat perjalanan konsumen dan petakan pains dan gains mereka.

“Bila bisa memetakan apa yang menjadi pains dan gains konsumen, kita bisa berhasil membuat produk. Masalah semua orang dalam hal ini adalah, sok tahu. Karena, bisa jadi kita bukan pengguna dari produk yang kita buat. Jadi, tidak bisa asal user testing. Makanya perlu riset untuk mendapat gambaran persona konsumen. Dengan mengetahui ini, kita juga jadi tahu apa yang harus diperbaiki. Jadi tidak hanya trial and error saja. Kita bisa bikin ini jadi sains dan science need evidence,” pungkasnya.