Mencari Keunikan Bagi Bisnis Sendiri di Pasar yang Majemuk

Komisaris Akulaku Martha Adlina
Komisaris Akulaku Martha Adlina

Merintis bisnis dari nol bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi, bisnis yang akan kamu geluti adalah bisnis yang sudah banyak pemainnya. Meski demikian, dalam kondisi semacam ini, bukanlah hal mustahil untuk tetap bisa tampil berbeda dan unik dibanding pemain lain yang sudah ada.

Hal ini dibuktikan oleh aplikasi virtual kredit Akulaku. Komisaris Akulaku Martha Adlina mengaku, Akulaku telah melakukan riset pasar terlebih dahulu untuk menentukan Unique Selling Point (USP) perusahaan yang akan ia dirikan karena e-dagang di Indonesia sudah semakin berkembang dan banyak pemainnya.

“Hasilnya, kita tahu bahwa perilaku konsumtif orang Indonesia besar. Konsumen Indonesia juga memiliki pola belanja yang unik, mereka akan belanja saat sudah terima gaji atau mereka akan menabung selama beberapa waktu untuk membeli barang yang mereka mau. Hal ini juga menjadi latar belakang pendirian Akulaku,” ungkap Martha.

Di aplikasi Akulaku, tiap orang harus menyertakan segala dokumen yang dibutuhkan untuk mendaftar menjadi pengguna. “Setelah semua dokumen lolos verifikasi, mereka sudah bisa belanja dan mengakses fitur pembiayaan,” jelas Martha yang memastikan Akulaku sudah diawasi Otoritas Jasa Keuangan.

Berkat inovasi ini, Akulaku kini berhasil memiliki 15 juta pengguna terdaftar dan tercatat lebih dari 1,5 juta transaksi terjadi tiap bulan melalui aplikasi Akulaku. “Kami juga terus melakukan inovasi untuk tetap menjadi pelopor di bidang ini,” jelas Martha mengungkap strategi agar tetap memiliki daya saing di pasar menyikapi banyaknya pemain lain yang memiliki bisnis mirip Akulaku.

Seiring perkembangan perusahaan, saat ini Akulaku sudah memiliki sekitar 400 karyawan dan terus melakukan inovasi. “Buat Akulaku, teknologi sangat penting. Teknologi merupakan hal yang diperlukan aplikasi kami, (teknologi membantu) perjalanan sistem Akulaku,” jelas Martha.

Contoh nyatanya, proses verifikasi pengguna untuk pembiayaan yang tadinya butuh 2x24 jam untuk prosesnya, kini sudah tidak lebih dari tiga jam. “Ini salah satu bentuk inovasi. Kita punya algoritma khusus untuk verifikasi pengguna,” kata Martha.

Akulaku juga sudah menjamah ke ranah luring (offline). Jadi, pengguna Akulaku bisa melakukan transaksi di toko fisik cukup dengan memindai barcode yang ada di toko tersebut menggunakan aplikasi Akulaku.

“Saat ini sudah kerja sama 20.000 merchant. Ini baru jalan di Agustus. Jadi, inovasi pembiayaan dengan scan barcode,” kata Martha.

Martha melanjutkan, untuk pemrosesan transaksi, pihaknya bekerja PT Bank Central Asia Tbk (BCA), khususnya melalui aplikasi Aplication Program Interface (API). "Berkat API BCA, kami tak perlu lagi mengecek tiap transaksi konsumen secara manual satu per satu," pungkasnya.