Mengenal Sistem Pengolahan Transaksi Lewat Sistem GPN

GPN
GPN

Sistem Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) sudah mulai aktif sejak awal tahun ini. Kemudian, perbankan nasional juga mulai meluncurkan kartu debit dengan logo garuda merah yang merupakan logo GPN. Namun, tahukah kamu bagaimana cara kerja sistem GPN ini?

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Elektronifikasi dan GPN BI Pungky Purnomo Wibowo, proses routing (proses pengolahan data) transaksi yang dulunya dilakukan di luar negeri kini bisa dilakukan di dalam negeri melalui GPN.

Dampaknya, hal tersebut bisa memberikan efek penghematan pada transaksi nontunai di Indonesia. Pungky bilang, GPN juga menurunkan biaya merchant discount rate (MDR) yang selama ini diberlakukan merchant atau toko kepada pembeli sekaligus nasabah.

Pungky memberi contoh, berkat GPN, PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) yang merupakan perusahaan switching GPN dari BI bisa menghemat Rp1 triliun hingga April. Meski demikian, Direktur Utama Artajasa Bayu Hanantasena enggan mengungkap menyebutkan jumlah penghematannya.

"Kalau angka persis saya belum bisa sebut. Tapi dalam hitungan T (triliun)," imbuh dia seperti dilaporkan Detik. Bayu mengungkap, saat ini rata-rata masyarakat bertransaksi dengan kartu debit sebesar Rp400-500 ribu sekali transaksi.

Potensi Pendapatan

Adanya kartu debit GPN akan meningkatkan potensi pendapatan yang masuk ke Indonesia. Hal ini terjadi karena routing dilakukan di dalam negeri. Sebelum ada GPN, ketika masyarakat bertransaksi dengan kartu Visa atau MasterCard, maka ada komponen MDR yang ditarik untuk ke pihak asing.

Melalui kartu GPN, maka tak ada lagi komponen MDR untuk prinsipal asing.

"Penghematan di sini maksudnya, MDR dari merchant tidak lagi masuk ke luar sana (Visa atau MasterCard), jadi ke dalam negeri semuanya," kata Direktur Bisnis Artajasa Anthoni Morris.