Meniru Langkah Pemimpin Pasar Hadapi Disrupsi

surat kabar
surat kabar

Kehadiran teknologi mengubah banyak hal, terutama kebiasaan masyarakat. Teknologi membuat hidup menjadi mudah, nyaman dan efisien. Dalam mengakses informasi misalnya, dulu orang harus menunggu koran terbit tiap pagi. Kini, berita terkini sudah bisa diakses dari internet di ponsel.

"Bagi kami di Kompas, pengaruh (influence) lebih penting dibanding pemberitaan itu sendiri. Kami fokus dengan itu. Apalagi, Kompas adalah pemain lama. Kami sudah melalui berbagai evolusi dari Intisari ke Kompas. Kami juga mengembangkan Tribun, masuk ke radio Sonora dan mengembangkan TV lewat KompasTV," jelas Editor in Chief Harian Kompas Budiman Tanuredjo di Indonesia Knowledge Forum 2018.

Dalam mengonsumsi informasi, jelas Budiman, masyarakat berubah. Beberapa dekade lalu, masyarakat lebih memilih mendengarkan atau membaca (koran). Kini, generasi milenial lebih suka menonton dibanding membaca. Kompas pun ikut berubah mengikuti kebiasaan pembaca.

"Bagaimana Kompas menghadapinya? Kita berubah dari monoplatform ke multiplatform, one editorial for multiplaftorm, one produce for many platform," ujarnya. Sebuah isu atau topik berita, katanya, akan ditampilkan pertama (breaking news) melalui KompasTV dan Kompas.com.

Setelah itu, mereka akan membuat analisisnya di Kompas Cetak. Ulangan atau rerun berita atau kabar tersebut akan dilakukan tiap jam melalui Radio Sonora.

"Kita akan mencoba membuat newsroom 4.0 dengan menggabungkan semua. Kita juga melakukan penentuan arah berita, analisis konten berita, serta membuat komunikasi menjadi lebih interaktif. Semuanya dalam satu platform, Kompas," tambah dia.

Karena Kompas bukan perusahaan keluarga, Kompas memastikan bahwa langkah tiap perubahan harus mendapat dukungan dari manajemen. “Kami juga memastikan bahwa karyawan tahu persis untuk apa dan mengapa diperlukan perubahan itu. Mereka juga tahu perubahan itu akan kemana sehingga mereka bisa berkontribusi," jelasnya.

Selain itu, karena menargetkan diri menjadi perusahaan media yang berbasis edukasi (edutech), Kompas juga rajin menggandeng sejumlah pihak seperti UGM, UI dan Universitas Atmajaya.