Strategi Jitu Hubungkan 'Digital Native' dan 'Digital Immigrant'

Tiap generasi memang memiliki karakter masing-masing. Para anak muda masa kini misalnya. Mereka lahir dan tumbuh di era digital (Digital Native). Tentu mereka sudah lebih melek soal teknologi. Lalu bagaimana dengan generasi lebih senior (Digital Immigrant)?

Menurut Kepala Divisi Pembelajaran dan Pengembangan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Lena Setiawati, ini sebenarnya bukan persoalan usia. "Masalah utamanya terletak pada paradigma dari generasi senior," katanya pada Smart-Money di Menara BCA, Jakarta (7/9).

Lena mengakui, adopsi teknologi memang lebih mudah pada anak muda karena sudah terbiasa hidup dengan teknologi. Sementara itu, mereka yang lebih senior, harus mendapat 'paksaan' untuk bisa mengerti teknologi.

"Di BCA, kami pun membuat program khusus terkait digital awareness. Melalui program ini, kami menyiapkan agar para atasan mengerti mengenai digital dan diharapkan mampu menularkannya pada bawahannya," papar Lena.

Lebih lanjut, Lena mengatakan bahwa program yang sudah berjalan beberapa tahun terakhir ini ternyata cukup ampuh membuat para karyawan senior di BCA menjadi menggunakan dan mengenal produk digital.

"Karena atasan yang usianya senior 'terpaksa melek teknologi' dengan adanya program ini, bawahannya pun ikut melek teknologi. Program ini dibuat untuk membuat agar karyawan di BCA menjadi lebih agile terhadap perubahan yang terjadi," kata dia.

Untuk kamu yang juga ingin mengetahui tren dan fenomena digital yang sedang terjadi di industri, kamu bisa datang ke Indonesia Knowledge Forum (IKF) VII 2018 pada 9-10 Oktober mendatang di Ritz Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta. Informasi lebih lanjut, akses di sini.