Teknologi Ini Siap Mengubah Lanskap Bisnis di Indonesia

Teknologi Ini Siap Mengubah Lanskap Bisnis di Indonesia
Teknologi Ini Siap Mengubah Lanskap Bisnis di Indonesia

Baru-baru ini, lembaga riset internasional AC Nielsen menyelenggarakan diskusi panel dengan 50 pakar di berbagai bidang bisnis. Tema diskusi ini adalah 14 macam teknologi yang bisa memberi perubahan besar pada bisnis.

Khususnya, peran teknologi pada konsumen, ritel dan pemasok. Dalam laporan berjudul What's Next in Tech ini, ada empat perubahan teknologi yang diyakini memberi dampak signifikan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam lima tahun mendatang.

The Sharing Economy (Ekonomi Berbagi)
Teknologi untuk menghubungkan pembeli pribadi dan penjual secara nontradisional akan masuk platform ini. Mereka menyediakan pasar secara daring (online) untuk menghubungkan penawaran dan permintaan ke wilayah yang semakin luas.

Contoh paling mudah transportasi daring dari Grab atau Gojek atau Airbnb. Grab atau Gojek tak perlu menyediakan lahan parkir besar untuk menyimpan kendaraan mitranya namun jangkauan mereka semakin luas.

Penyebaran Teknologi dan Infrastruktur
Hal ini melibatkan peningkatan dan penggunaan teknologi yang ada di sebagian besar dunia. Contoh utamanya, internet dan tumbuhnya penetrasi sistem berlangganan produk seluler, termasuk ponsel pintar dan aplikasi.

Peningkatan teknologi ini membuka layanan perbankan dan e-dagang secara cepat dan menciptakan keterlibatan konsumen yang lebih dalam dengan produk dan merek. Konsumen akan semakin cepat melakukan adaptasi, khususnya pada ponsel pintar.

Big Data dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)
Perubahan ini mencakup teknologi untuk mengumpulkan dan memroses data dalam jumlah sangat besar guna meningkatkan pengelolaan sistem skala besar. Kemampuan pemrosesan dan kemampuan memori komputer yang meningkat sangat cepat saat ini memungkinkan pemerintah memiliki informasi real-time.

Misalnya, informasi arus lalu lintas, penggunaan energi, dan polusi. Beberapa perusahaan multinasional saat ini menuju ke arah big data dan kecerdasan buatan untuk lebih memahami perilaku konsumen, meningkatkan logistik dan perdagangan finansial.

Pembayaran Nontunai
Teknologi ini memberi solusi pembayaran nontunai seperti pembelian eceran sistem gesek dan bayar. Sistem mata uang dan pembayaran nontunai dari mata uang virtual seperti Bitcoin dan database blockchain yang sangat aman untuk transaksi bisnis.

Executive Director for Thought Leadership and Foresight in Nielsen's Growth and Emerging Markets Regan Leggett menyebut, sebagian besar wilayah di Asia Tenggara masih masuk kategori pedesaan dan belum terhubung teknologi.

Namun, Asia Tenggara juga memiliki basis konsumen besar. Mengenali dan memahami pergeseran ini berguna bagi peritel dan pemilik merek untuk antisipasi kebutuhan masa depan dan membentuk strategi sebelum masuk peluang yang terbuka.

Laporan ini juga menggambarkan hasil nyata bagi konsumen, peritel dan pemilik merek. Dalam lima tahun ke depan, hasil utama dari pergeseran teknologi di Asia Tenggara ini adalah bangkitnya konsumsi terprogram.

Konsumen perkotaan Asia Tenggara yang sebagian besar terhubung ke dunia dan sangat bergantung pada perangkat pribadi membuat konsumen makin terbuka pada konsumsi yang terprogram.

Hal ini bisa terjadi di dalam toko maupun melalui sistem koneksi di rumah yang terhubung dengan pemesanan otomatis.

"Banyak konsumen hanya akan menerima rekomendasi tempat makan, apa yang harus dipakai, apa yang harus ditonton dan tempat berlibur dari ponsel pintar dan perangkat lain berdasarkan data perilaku mereka sendiri," pungkas Leggett di laporan AC Nielsen.