Teknologi, SDM dan Masalah Produktivitas Bisnis (2)

Teknologi, SDM dan Masalah Produktivitas Bisnis (2)
Teknologi, SDM dan Masalah Produktivitas Bisnis (2)

Serupa, Presiden Smith Men Supply (merek pomade) Michael Nugroho juga mengalami hal sama. Tenaga kerja ahli menjadi masalah tersendiri bagi Michael yang merintis bisnisnya dari tugas kuliah itu, khususnya di bidang farmasi kosmetika.

"Padahal, para farmasian bertugas membuat formula produk baru dan merevisi produk lama. Kalaupun ada, mereka hanya ingin dibayar mahal," kata Michael. Hal ini membuat Michael masih menggunakan jasa tenaga farmasi yang bekerja di pabrik maklon tempatnya memesan produk.

"Kita tak bisa terlalu banyak mengharapkan bantuan mereka untuk menyusun produk baru. Karena mereka bekerja bukan untuk kita," ungkapnya. Masalah lainnya, kata Michael, adalah modal. Keterbatasan modal membuat volume produksi tak bisa banyak.

Sebanyak 34,9% responden survei mengalami hal sama. Terlebih lagi, pabrik maklon mewajibkan minimum pemesanan ribuan unit. "Sehingga, kalau ada produk baru meluncur, kami pastikan produk tersebut harus terserap pasar dengan baik. Harus laku. Sebab, kami tak bisa pesan ratusan piece," katanya.

Bagi Tanamera, produksi sebenarnya bukan soal utama. Lewat delapan mitra petani di Indonesia, Tanamera pada dasarnya mampu memenuhi permintaan pasar saat ini. Hanya, ia tak mau secara ekspansif membuka banyak gerai.

"Alasannya, kami memilih mitra bisnis yang ingin memajukan bisnis bersama-sama bukan sekadar ingin punya kedai kopi untuk menjadi tempat arisan," kata Dini. Dini juga tak ingin menjadi mainstream yang buka di banyak tempat.

Dalam sebulan, Tanamera butuh sekitar 3,5 ton kopi untuk lima gerainya. Mesin penggiling kopi pun dipilih yang terbaik, yaitu Giessen dari Belanda yang memiliki kapasitas 60 kilogram dengan harga mencapai Rp 2 miliar.

"Kami pun menjadi distributor resmi Gieseen untuk Indonesia dan Singapura. Alat ini mahal tapi kami tak ingin investasi setengah-setengah," kata Dini. Inovasi dalam produksi juga tak luput dari perhatian UKM.

Berdasar hasil riset MarkPlus, 81,6% responden mengaku sudah melakukan inovasi dalam produksi. Inovasi produk yang paling banyak dilakukan UKM adalah layanan dan bahan baku.

Michael sendiri mengaku kesulitan melakukan inovasi bahan baku. "Sebab, hampir semua bahan baku pomade diimpor dari Eropa dan India. Padahal, Indonesia punya bahan baku tersebut," kata Michael.

Apa pun itu, bila kamu punya mental entrepreneurship, tahan banting dan kreativitas, bisnis yang kamu bangun setidaknya bisa bertahan di pasar.