Upaya Tekan Kerugian Akibat Macet dengan Inovasi Teknologi

Indonesia Knowledge Forum VII
Indonesia Knowledge Forum VII

Macet memang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi warga ibu kota dan sekitarnya. Akibat macet pula, banyak kerugian terjadi. Mulai dari kerugian waktu hingga kerugian materi yang jumlahnya tidak bisa dibilang kecil.

Menurut data Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), tahun ini DKI Jakarta menderita kerugian hingga Rp67,5 triliun akibat kemacetan. Sementara itu, bila dijumlahkan dengan wilayah sekitarnya, Jabodetabek menderita kerugian hingga Rp100 triliun per tahun.

Di Indonesia Knowledge Forum VII, Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Djoko Sasono memberikan gambaran perihal ini melalui pengalaman pribadinya dalam berkendara di ibu kota.

"Biasanya uang yang sediakan untuk mengisi bahan bakar cukup untuk tiga hari. Karena macet, masa pakainya menjadi pendek, hanya dua hari," katanya di Pacific Place, Jakarta (9/10).

Djoko yakin, implementasi teknologi akan memberikan dampak yang positif dalam membantu menekan nilai kerugian yang timbul akibat macet.

"Kami berupaya mengatasi macet melalui pembangunan MRT dan LRT. Langkah ini kami tempuh dengan tujuan meningkatkan efisiensi transportasi. Teknologi akan membantu mempercepat proses pembangunan ini," katanya.

Menjadi Kota Pintar

Pergerakan lalu lintas harian di Jabodetabek pada 2003 sekitar 37,3 juta perjalanan/hari. Angka tersebut meningkat 58% atau mencapai 47,5 juta perjalanan/hari pada 2015.

Dari 47,5 juta perjalanan orang per hari tersebut, sekitar 23,42 juta merupakan pergerakan di dalam kota DKI, 4,06 juta adalah pergerakan komuter dan 20,02 juta adalah pergerakan lainnya yang melintas DKI dan internal Bodetabek.

Perjalanan di Jabodetabek rata-rata didominasi sepeda motor sebesar 75%, kendaraan pribadi 23% dan 2% oleh kendaraan angkutan umum. Terkait ini, teknologi dianggap mampu menjadi salah satu solusi untuk ‘menjinakkan’ kondisi lalu lintar ibu kota.

Bukti bahwa teknologi telah memberi banyak keuntungan di bidang transportasi sudah banyak. Djoko kembali bercerita mengenai pengalaman pribadi yang ia alami. "Dulu, kalau naik ojek saya harus jalan hingga pangkalan ojek terlebih dahulu. Sekarang tidak lagi," kata dia.

Berkat teknologi, untuk menggunakan layanan ojek, ia cukup memesan melalui ponsel pintar dan ojek pun menjemput hingga depan rumah. "Efisiensi di transportasi paling terlihat di transportasi online (daring). Ini sangat efisien," katanya.

Melalui teknologi, kata Djoko, pihaknya ingin membangun kota pintar (smart city). Sebab, melalui teknologi pula, ia bisa mengendalikan segala sesuatu secara digital. "Jadi, semuanya bisa menjadi efisien. Tidak ada lagi cerita harus ke pangkalan ojek untuk menggunakan jasa ojek," pungkasnya.