5 Cara Menghitung Pendapatan Investasi Saham

Ilustrasi
Ilustrasi

Salah satu hal penting yang perlu dipelajari investor pemula adalah menghitung pendapatan saham. Hal ini tidak bisa kamu abaikan agar bisa memaksimalkan keuntungan.

Sebab berinvestasi dengan hanya menghitung keuntungan bersihnya saja sebenarnya kurang tepat. Kamu perlu beberapa model perhitungan saat berinvestasi saham. Berikut di antaranya:

1. Return of Investment

Model perhitungan investasi saham ini yang paling banyak digunakan investor. Return of Investment atau ROI umumnya menggunakan patokan periode secara tahunan. Model ini juga efektif untuk melihat pertumbuhan investasi.

Biasanya, rumus menghitung ROI dihitung dengan cara mengurangi total penjualan dengan biaya investasi. Kemudian, hasil pengurangan tersebut dibagi dengan biaya investasi dan dikali 100%.

Ambil contoh kamu berinvestasi saham sebesar Rp10 juta dengan penghasilan setahun sebesar Rp15 juta, maka ROI yang didapatkan:

= {(Rp15 juta – Rp10 juta) : Rp10 juta} x 100%
= (Rp5 juta : Rp10 juta) x 100%
= 0,5 x 100%
= 50%

2. Compound Return

Dalam compound return, keuntungan dari investasi saham tidak ditarik oleh investor tetapi diinvestasikan kembali dengan modal awal. Cara berinvestasi ini akan membuat investor menerima nominal return yang jauh lebih besar di tahun berikutnya.

Ambil contoh kamu melakukan investasi saham sebesar Rp100 juta dengan keuntungan 20% dalam satu tahun. Maka di akhir tahun keuntungan yang diterima adalah sebesar Rp20 juta.

Jika investor tidak melakukan penarikan, berarti total modal investasi menjadi Rp120 juta. Dengan persentase keuntungan yang sama, maka di tahun berikutnya keuntungan yang diterima investor berlipat menjadi Rp24 juta dengan total investasi menjadi Rp164 juta.

3. Arithmetic Mean Return

Arithmetic Mean Return atau AMR ini adalah model perhitungan pendapatan investasi saham yang menunjukkan besar return rata-rata biasa. Sebelum bisa menghitung annualized return atau return tahunan, investor perlu tahu cara menghitung AMR terlebih dahulu. Caranya cukup sederhana.

Kamu cukup membagi return dengan jumlah tahun investasi. Ambil contoh dari tahun 2018, 2019 hingga 2020, masing-masing return-nya adalah 20%, 25%, dan 15%. Maka, total return dari tahun-tahun tersebut adalah 60%.

Lantaran AMR ini dihitung untuk tiga tahun investasi, maka persentase tersebut perlu dibagi 3, sehingga hasil rata-rata return adalah 20%.

Perhitungan model AMR ini dianggap memiliki kelemahan karena dinilai kurang akurat. Apalagi AMR tidak melibatkan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi nilai investasi.

4. Geometric Mean Return

Dibanding AMR, Geometric Mean Return (GMR) dapat memberikan perhitungan yang lebih akurat. Pasalnya model ini menunjukkan nilai rata-rata tahunan.

Ambil contoh dari tahun 2018, 2019 hingga 2020 masing-masing persentase return 20%, 25%, dan 15%. Dengan GMR, maka perhitungannya menjadi:

= { 31+20%x 1+=25%x (1+15%) } - 1
= 14,548%

Pemangkatan dalam rumus ini disesuaikan dengan jumlah tahun yang hendak dihitung.

5. Annualized Return

Untuk menghitung annualized return, kamu wajib memastikan data yang mau dihitung sudah genap satu tahun. Artinya, jika data yang dimiliki merupakan data investasi selama 11 bulan, maka belum bisa digunakan.

Ambil contoh dalam sebulan return yang diterima kamu adalah 2%. Dengan perhitungan 12 bulan dalam satu tahun, maka perhitungannya menjadi:

= 1+0,0212-1
=1,268 – 1
= 0,268
= 26,8%

Itulah tadi beberapa model perhitungan pendapatan investasi saham yang perlu kamu pelajari. Sekali lagi, dengan mengetahui cara menghitung pendapatan yang benar, kamu bisa memaksimalkan keuntungan berinvestasi. Model-model di atas dapat kamu jadikan acuan untuk evaluasi investasi ke depannya. Yuk pelajari.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.