5 Waktu yang Tepat untuk Mencairkan atau Memindahkan Reksa Dana

Investor pemula kerap terburu-buru mencairkan atau memindahkan reksa dananya.
Investor pemula kerap terburu-buru mencairkan atau memindahkan reksa dananya.

Kapan sih waktu yang tepat untuk mencairkan reksa dana atau memindahkannya ke instrumen lain? Apa perlu ada analisis khusus?

Reksa dana acap kali memang dijadikan pilihan bagi pemula yang ingin belajar investasi. Setelah reksa dana, harapan mereka bisa beralih ke instrumen lainnya yang menjanjikan keuntungan lebih besar, misalnya seperti saham.

Namun terkadang, banyak yang terlalu cepat mengambil keputusan mencairkannya (redeem) saat reksa dananya sedang menunjukkan keuntungan positif. Begitu pula sebaliknya, saat hasil reksa dananya sedang tidak bagus, banyak yang tak sabar ingin segera memindahkannya (switching) ke reksa dana lain.

Padahal sebaiknya jangan seperti itu. Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan untuk tahu kapan waktu terbaik mencairkan atau memindahkan reksa dana.

1. Profil Risiko Berubah

Hal pertama berkaitan dengan diri kamu. Umumnya, sebelum menjadi investor reksa dana, kamu diwajibkan mengisi profil risiko.

Dari situ terlihat, mereka yang tidak sanggup menanggung besarnya fluktuasi di pasar saham, akan memilih reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap. Sedangkan mereka yang tergolong agresif, biasanya berani memilih reksa dana saham.

Nah, jika misalnya kamu awalnya adalah orang yang berhati-hati dan bermain aman, kemudian setelah banyak membaca dan belajar investasi sudah makin percaya diri, berani mengambil risiko, dan punya modal cukup untuk pindah ke saham, itu berarti profil risiko kamu sudah berubah.

Saat profil risikomu sudah berubah, kamu boleh memindahkan reksa danamu ke instrumen lain yang punya tingkat risiko lebih tinggi.

2. Kinerja Reksa Dana Tidak Sesuai Tujuan

Kamu boleh memindahkan reksa dana bila kinerja reksa dana milikmu tidak optimal. Tapi sebaiknya, pindahkan sebagian kecil dahulu. Nanti ketika semakin yakin, kamu bisa menambahkan porsinya.

Dan perlu diingat, reksa dana saham itu biasanya dilakukan untuk tujuan keuangan menengah atau panjang. Jadi cek lagi, pas tidak dengan tujuan kamu.

3. Tujuan Investasi Tercapai

Namun beberapa orang ada yang investasi reksa dana memang untuk jangka pendek, misalnya untuk tur keliling Eropa dua tahun lagi. Lalu saat tujuan tersebut terealisasi, dan tabungan berlebih, kamu bisa memindahkan dananya ke reksa dana dengan risiko yang lebih besar agar investasimu aman inflasi.

4. Mendekati Waktu Pemanfaatan Dana Investasi

Makin mendekati waktu penggunaan dana, tidak ada salahnya memindahkan portofolio reksa dana ke yang minim risiko. Misalnya, selama ini kamu menyimpan dana pendidikan anak di reksa dana saham.

Bila anakmu akan masuk SD sebentar lagi dan kamu perlu dananya, kamu bisa memindahkannya ke reksa dana pasar uang. Demikian, risiko flutuasi nilai reksa dana bisa kamu hindari.

5. Antisipasi Kondisi Pasar

Hal ini biasanya dilakukan pada tipe investor yang sudah mumpuni. Bila sudah mendengar prediksi pasar keuangan akan mengalami penurunan, kamu butuh wadah dana yang lebih aman.

Namun, di saat kamu lebih optimistis, kamu bisa memindahkannya kembali reksa dana milikmu sesuai profil risiko dan tujuan investasimu.

Itu tadi 5 hal yang harus kamu perhatikan sebelum mencairkan atau memindahkan reksa dana milikmu ke reksa dana berisiko lebih tinggi. Yuk lebih bijak lagi.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.