Agar Tidak Panik, Kenali Penyebab Fluktuasi Harga Saham

Investasi Saham
Investasi Saham

Melihat kondisi saham yang kamu miliki berubah merah tentu tidak menyenangkan. Bahkan, ada investor yang berubah panik ketika mengalami hal tersebut dan mengambil langkah yang salah.

Fluktuasi harga saham adalah dampak dari kondisi pasar keuangan global yang memengaruhi langsung Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar. Kondisi semacam ini bisa membuat seseorang panik dan tegang.

Namun, Perencana Keuangan di lembaga konsultan keuangan Betterment Nick Holeman memiliki penjelasannya. Permintaan dan penawaran akan suatu saham membuat harga saham di satu waktu naik dan turun.

Bila lebih banyak yang beli, harga naik, dan berlaku sebaliknya. Salah satu penyebab harga saham naik adalah prediksi yang baik akan kinerja suatu perusahaan di masa mendatang.

"Masing-masing investor tentu memiliki opini sendiri pada masing-masing saham. Mereka melihat berdasarkan laporan pendapatan, kondisi neraca dan isu positif atau negatif yang terjadi pada suatu perusahaan," katanya seperti dikutip CNBC Make-It.

Dalam memilih suatu saham, katanya, kamu harus melihat masa depan. Jadi, kamu harus bisa membuat prediksi apa yang akan terjadi di masa depan pada bisnis perusahaan terkait.

Tentu saja, bagi kamu yang baru, seringkali hal ini dapat menjadi hal yang membingungkan. Bila harapan bagus, mengapa harga saham bisa terus fluktuasi? Bukankah hal tersebut menandakan bahayanya menempatkan investasi pada saham?

"Kamu mendapat kompensasi dari risiko besar tersebut. Bila pasar modal tidak bisa diprediksi, imbal hasilnya pasti kecil," tambahnya. Nick membandingkan investasi saham dengan menempatkan uang di rekening perbankan.

Saat ini, tingkat suku bunga acuan (BI7Day Repo Rate) sebesar 5,5% dan suku bunga simpanan LPS sebesar 6,5%, suku bunga tabungan bergerak antara 2%-3%. Sedangkan suku bunga deposito sekitar 5%-6% per tahun.

"Dalam tabungan juga tidak ada kepastian bahwa dalam satu tahun, bank akan memberi 2%-3% bunga. Tidak ada yang pasti bila kita bicara masa depan," tambahnya. Dalam ketidakpastian, lanjutnya, saham jelas memberi imbal hasil tahunan lebih tinggi.

Imbal hasil IHSG per tahun bisa mencapai 10%-15% per tahun. "Untuk investor jangka panjang, kondisi pasar di jangka pendek tidak akan berpengaruh apa-apa," tambahnya. Langkah ini sudah dibuktikan Warren Buffett selama bertahun-tahun.

Dalam kondisi pasar apa pun, Warren tetap membeli saham. "Jangan terlalu sering menjual dan membeli saham dalam tempo pendek. Hasilnya tidak bagus," pesan Buffet. Terkait investasi saham, Warren juga punya prinsip.

"Jika kamu tidak nyaman untuk memegang satu saham selama 10 tahun ke depan, jangan pernah membeli dan memiliki satu saham pun selama 10 menit," pesannya.