Beberapa Pertimbangan Sebelum Investasi Barang Mewah

Investasi Barang Mewah
Investasi Barang Mewah

Investasi tak hanya sebatas pada produk keuangan, emas atau properti. Hobi mengumpulkan barang mewah juga bisa menjadi bentuk investasi. Syaratnya, ketika melakukan pembelian, harus berdasarkan pertimbangan yang tepat.

Knight Frank Luxury Investment Index 2018 mencatat, ada pergerakan kelas menengah ke kelas atas secara global. Hal ini menyebabkan permintaan barang mewah dan barang koleksi seperti barang seni, jam tangan hingga wine terus naik.

Selain itu, survei Asia Luxury Index 2016 juga menyebut, tren belanja barang fesyen mewah juga terus mengalami kenaikan. Selama 10 tahun terakhir, menurut laporan Knight Frank Luxury Investment 2018, permintaan barang mewah seperti benda seni naik 78%.

Sedangkan permintaan jam tangan meningkat 69%, perhiasan meningkat 138%, wine naik 192% dan mobil naik 334%. Merek-merek yang paling disukai di Asia adalah Chanel.

Selain itu, orang kaya Asia juga keranjingan produk mewah seperti Givenchy, Burberry, Valentino Garavani, Balenciaga, Saint Laurent dan Tory Burch.

Untuk kamu yang berencana investasi barang mewah, ini pertimbangannya.

Co-Founder & Chairman Jagartha Advisors Ari Adil mengatakan bahwa mengoleksi barang mewah untuk investasi butuh pertimbangan cermat dan perlu riset pasar.

Kolektor atau investor harus bisa mengetahui kebutuhan dan pasokan model barang tertentu untuk menjadi dasar apakah barang tersebut bisa menghasilkan nilai jual yang lebih tinggi.

Barang mewah, kata dia, juga tak bisa diperlakukan sebagai mata uang (currency) yang bisa dilikuidasi kapan saja.

“Jam tangan mewah adalah salah satu barang yang punya monetisasi baik karena pasarnya di Indonesia sudah terbentuk di kalangan yang juga paham tentang nilai sebuah barang mewah,” kata Ari dikutip Bisnis.com.

Sederhananya, bila menyimpan deposito berjangka selama kurun waktu tertentu, nilai deposito akan bertambah saat deposito jatuh tempo. Sementara, memiliki jam tangan mewah bisa kamu jual dengan nilai melebihi harga beli.

Kamu juga tak perlu menunggu masa 'jatuh tempo' untuk mendapat keuntungan seperti deposito. Di samping investasi, Ari juga menyarankan untuk memperhatikan gerak nilai tukar Rupiah. Alasannya, barang mewah didominasi barang impor.

“Harga barang mewah baru dan bekas akan terpengaruh bila rupiah melemah maupun menguat,” katanya. Meski begitu, Ari menekankan bahwa barang mewah tak menjadi satu-satunya portofolio untuk tujuan investasi.

“Risiko kerusakan barang jika berada di tangan yang tidak tepat justru akan merusak nilainya. Sangat penting bagi investor mengerti risiko investasi yang melibatkan barang-barang berharga yang tidak menghasilkan pendapatan tetap,” pungkasnya.