Bukan 5 Melainkan 7 Alasan Reksadana Cocok Meski Ekonomi Anjlok

Ilustrasi reksadana
Ilustrasi reksadana

Perkembangan ekonomi saat ini membuat banyak orang berpikir dua kali untuk investasi. Adanya pandemi juga mendesak mereka memilih menyimpan dana tunainya.

Tidak salah memang. Pilihan ini cenderung lebih mudah, terutama ketika kamu sedang ada kebutuhan mendesak saat berada #dirumahaja.

Namun, perlu diingat, nilai uang dalam bentuk tunai tidak akan berkembang dan justru tergerus inflasi. Itulah mengapa beberapa orang lantas beralih ke investasi.

Nah, pertanyaannya, investasi apa yang masih aman di tengah kondisi seperti sekarang?

Mungkin kamu bisa melirik reksadana sebagai investasi keuangan alternatif. Pilihan reksadana sendiri ada banyak, mulai dari yang berisiko rendah hingga yang cukup menantang. Selain itu, ada bukti-bukti lain yang membuat reksadana memang cocok meski ekonomi anjlok.

Biar lebih tergambar, simak yuk:

7 Alasan Reksadana Cocok Saat Ekonomi Anjlok

1. Bisa Menyebar Aset

Di reksadana, kamu bisa menyebar aset pada banyak wahana investasi. Hal ini sesuai dengan prinsip di kalangan investor yakni jangan menumpuk di satu keranjang. Jadi ketika ada satu yang tidak terlalu memuaskan, setidaknya ada keranjang lainnya yang dapat menyelamatkanmu.

2. Ada Manajer Investasi

Kalau bingung, kelebihan di reksadana adalah kamu bisa mempercayakan aset ke para profesional yang kemudian disebut manajer investasi. Itulah mengapa sangat penting untuk membaca dulu profil manajer investasi yang ingin kamu pilih.

3. Banyak Pilihan

Ada banyak jenis reksa dana, mulai dari reksa dana pendapatan tetap, reksa dana pasar uang, reksa dana pasar saham, dan reksa dana campuran.

Reksadana pendapatan tetap menginvestasikan dananya minimal 80 persen dari asetnya ke dalam bentuk obligasi atau surat utang jangka panjang. Disebut sebagai pendapatan tetap karena obligasi memberikan imbal hasil secara rutin.

Reksadana pasar uang adalah reksadana yang 100 persen asetnya diinvestasikan di instrumen pasar uang seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, dan obligasi yang jatuh tempo di bawah 1 tahun.

Sedangkan reksadana pasar saham adalah jenis reksadana yang sebagian besar alokasi investasinya ditempatkan pada saham. Biasanya dana investasi dialokasikan minimal 80 persen di saham, maksimal 20 persen surat utang, dan maksimal 20 persen pasar uang.

4. Makin Dipercaya Banyak Orang

Belakangan ini, makin banyak yang membeli reksadana. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat pertumbuhan jumlah investor di pasar modal Indonesia naik 21,66 persen menjadi 3,02 juta investor hingga 30 Juli 2020, dibanding pada periode akhir tahun 2019 sebesar 2,48 juta investor.

Dari jumlah tersebut, investor reksadana tercatat sebanyak 2,31 juta investor, meningkat 30,50 persen dibanding akhir 2019 sebanyak 1,77 juta investor, sehingga menjadi yang paling besar tumbuhnya dibanding investor saham dan SBN.

5. Informasi Mudah Dicari

Seperti dilansir dari Lokadata.id, Pemerhati Pasar Modal, Wahyu Trenggono mengatakan dengan semakin gencarnya upaya meningkatkan inklusi keuangan oleh berbagai pihak, maka makin banyak masyarakat awam yang tadinya belum mengenal dunia keuangan dan investasi sekarang jadi sadar bahwa investasi memang penting.

“Reksadana sebagai instrumen investasi di pasar modal, dipandang sebagai instrumen yang paling mudah, cepat dapat dimengerti oleh masyarakat awam, dan dianggap cukup aman,” kata Wahyu kepada Lokadata.id, Kamis (26/11). Selain itu, ladang informasi saat ini juga begitu mudah didapatkan.

6. Cara Investasi Makin Mudah

“Melalui reksadana, investor bisa berinvestasi sesuai dengan yang diinginkan. Karena pembelian reksadana saat ini sudah sangat mudah dilakukan,” ujar Wahyu yang juga menjabat sebagai Direktur IdScore Pefindo Biro Kredit ini.

Misalnya saja, orang sekarang bisa membeli reksadana melalui Welma, aplikasi pengelola keuangan untuk investasi milik BCA. Jadi lebih mudah karena bisa lewat HP.

Klik info soal Welma di sini.

7. Trennya Positif

Masih menurut daya yang diolah Lokadata.id, ketika pandemi COVID-19 menyerang Indonesia mulai Maret, seluruh jenis reksadana memang turun. Reksadana pasar uang turun 19,3 persen, diikuti reksadana saham -18,5 persen, serta reksa dana campuran dan reksadana pendapatan tetap masing-masing -10,2 persen dan -6,5 persen. Secara keseluruhan, total dana kelolaan reksadana pada Maret mencapai Rp471,4 triliun, turun 8,5 persen dibandingkan Maret 2019 sebesar Rp515,1 triliun.

Namun, saat ini industri reksadana sudah pulih kembali. Per November 2020, dana kelolaan industri reksadana sudah mencapai Rp547,8 triliun, atau naik2,48 persen dibandingkan November 2019. Dibandingkan Maret 2020, dana kelolaan reksadana November sudah naik 16,2 persen. Situasi inilah yang mesti dipahami kamu para calon investor.

Itu tadi 7 alasan mengapa reksadana kembali jadi idola banyak orang untuk berinvestasi. Sekarang tinggal bagaimana kamu mendalami pengetahuan dan komitmen untuk memilih reksadana jenis apa yang paling cocok denganmu.

Kalau kata Statistik Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tercatat per Oktober 2020, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana pendapatan tetap merupakan yang paling tinggi dibandingkan jenis reksadana lainnya sebesar Rp114,3 triliun. Disusul reksadana saham Rp99,34 triliun, dan pasar uang Rp73,33 triliun.

Namun, dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2015-2020), justru reksadana saham menjadi yang tertinggi periode Juli 2019 dengan NAB sebesar Rp144 triliun.

Kenapa? Karena rupanya reksadana saham berpotensi menawarkan tingkat return investasi yang lebih tinggi dibanding reksadana jenis lain. Ini merupakan daya tarik utama bagi investor sehingga mencatat NAV terbesar.

“Tetapi sebenarnya investor juga perlu diberi pemahaman bahwa reksadana saham juga memiliki risiko yang relatif lebih tinggi dibandingkan reksadana jenis lain. High risk high return,” kata Wahyu.

Ia menjelaskan pemegang reksadana saham nilai investasinya memang bisa meningkat tajam ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) naik. Sebaliknya, nilai investasinya bisa jatuh ketika IHSG di BEI turun. Jadi pilih yang bijak ya, Bro.

Smart Money

Platform media masa kini yang memberikan insight seputar ekonomi, bisnis, industri dan gaya hidup.