Cermati Instrumen Ini Saat Tren Suku Bunga Naik (1)

investasi
investasi

Bank sentral menaikkan suku bunga acuan ke level 4,75% dengan harapan untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah yang bergerak liar akhir-akhir ini. Tren kenaikan suku bunga acuan juga berpotensi memoles imbal hasil sejumlah instrumen investasi.

Tren kenaikan ini potensi meningkatkan imbal instrumen seperti deposito, obligasi, maupun reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang. Momentum ini bisa menjadi peluang bagi investor memilah kembali instrumen investasi.

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menilai, kenaikan suku bunga acuan BI berpotensi meningkatkan kinerja obligasi, baik dari pemerintah maupun korporasi dengan catatan, kondisi nilai tukar rupiah bisa lebih stabil.

Untuk itu, Farash menilai, investor yang punya toleransi terbatas pada volatilitas dan memiliki horizon investasi pendek hingga menengah, sebaiknya investasi pada reksa dana pendapatan tetap yang membagikan dividen secara reguler.

Sedangkan, investor dengan profil sebaliknya, bisa investasi di instrumen saham maupun reksa dana yang portofolionya terdiri dari saham big caps dengan fundamental kuat. "Contoh, saham atau reksa dana berbasis indeks IDX30 atau LQ45. Tapi, eksekusi investasinya dilakukan secara bertahap saja," kata dia.

Sementara, potensi instrumen pasar uang, kata Farash, belum akan signifikan. Sebab, likuiditas bank saat ini masih cukup besar sehingga kenaikan suku bunga acuan belum tentu elastis pada kenaikan bunga deposito.

Berlanjut ke bagian kedua.