Cermati Instrumen Ini Saat Tren Suku Bunga Naik (2)

investasi
investasi

Investor tetap harus melakukan antisipasi ketidakpastian global yang juga masih menyelimuti pasar saat ini. Ketegangan geopolitik, potensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, serta potensi krisis Italia dan Uni Eropa berpeluang menekan pasar modal lebih dalam.

Untuk itu, Perencana Keuangan Oneshildt Financial Planning Budi Raharjo menyebut, dalam jangka pendek, satu hingga dua tahun ke depan, instrumen pasar uang lebih disarankan sebagai pilihan.

"Tujuannya memang bukan untuk growth, tapi menjaga nilai modal agar tidak tergerus volatilitas pasar," katanya. Budi tak memungkiri, instrumen pendapatan tetap masih cukup menjanjikan.

Naiknya suku bunga acuan berpotensi meningkatkan imbal hasil sekaligus menurunkan harga obligasi. Namun, ia menyarankan akumulasi obligasi di saat harganya terkoreksi sebaiknya dilakukan oleh investor yang horizon investasinya di atas dua tahun.

Sama halnya untuk instrumen saham berfundamental bagus yang kini sedang banyak terdiskon, "Silakan investor akumulasi untuk jangka panjang lima hingga tujuh tahun ke depan," sarannya. Meski pamor aset safe haven menanjak di tengah ketidakpastian global, Budi tak begitu menyarankan emas.

Alasannya, dollar AS saat ini masih terus menguat sehingga harga emas tetap tertekan. Terbukti, pada Rabu (6/6), harga emas kontrak pengiriman Juni 2018 di Commodity Exchange masih terkoreksi 0,17% ke level US$ 1.296,80 per ons troi.

Sebagai aset safe haven paling diincar saat ini, Budi menilai, dollar AS bisa dipertimbangkan. Meski demikian, mata uang negeri Paman Sam itu juga sebaiknya hanya jadi diversifikasi investasi jangka pendek saja.

"(Sebab) fundamental perekonomian Indonesia yang menjanjikan masih berpotensi menarik perhatian investor masuk kembali ke pasar dalam negeri," pungkasnya.

MORE FROM MY SITE